breaking news New

Idul Fitri dan Revolusi Moral

Bulan suci Ramadhan usai, setiap insan yang beriman menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh keceriaan. Namun adakah pancaran Ramadhan membekas, sehingga moral bangsa menjadi lebih baik. Ramadhan dengan ibadah puasa yang sangat strategis itu sudah pergi dan insya Allah ia akan datang lagi pada tahun depan. Insya Allah kita pun diizinkan Allah menjumpainya kembali. Bagi umat Islam dimanapun termasuk di Indonesia, Idul Fitri berarti kembali kepada Fitrah. Fitrah adalah sebuah kata yang cukup dikenal dan sering diucapkan, kembali kepada keadaan normal, yakni normal dalam kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan rohani secara seimbang.

Menurut Prof Umay Djafar Sidik MA, manusia yang baik adalah manusia yang mampu dalam kesimbangan jasmani dan rohani, bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat sebagaimana sebuah do’a yang sering dipanjatkan usai shalat lima waktu. Keseimbangan juga tergambar dalam kata al-dunya dan al-akhirat, masing-masing terdiri dari enam huruf dan tercantum dalam Al Qur’an sebanyak 145 kali. Karena itu, setiap insan yang berpuasa dan setelah lepas bulan Ramadhan berusaha menjaga keseimbangan itu sehingga tidak terjerumus kepada kehidupan duniawi belaka, sedang kecenderungan akhirat menjadi terabaikan.

Kata Fitrah juga acapkali diucapkan terutama di akhir bulan puasa, sebelum melaksanakan shalat Id. Setiap insan muslim menunaikan kewajiban membayar zakat fitrah, biasanya dilakukan malam hari menyongsong Hari Raya Idul Fitri. Di sini, kata Id berasal dari kata ”ada” yang berarti kembali. Adapun kata ”fitrah” berasal dari kata fathr, bisa berarti membuka. Bila dihubungkan dengan kewajiban puasa Ramadhan, kata ini mengandung makna ”berbuka puasa”.

Dalam Al Qur’an, kata fitrah berkaitan dengan soal ciptaan Allah, baik alam maupun dengan manusia. Kata-kata ”Fitrah Allah” dalam Al Qur’an dan terjemahannya (Depag, 1992), dialih bahasakan sebagai ”ciptaan Allah”. Dalam Al Qur’an itu sendiri, ada sebuah surat yakni fathr, artinya Pencipta yaitu Allah. Nama surat tersebut berasal dari kalimat yang mengawali ayat pertama, ”Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi”. Kata-kata fathiri I-samawati wa I-arl, terulang beberapa kali dala Al Qur’an, yakni QS Al An’am : 14, QS Yusuf : 101, QS Ibrahim : 10, QS Fathr : 1 dan QS As-Sura : 11.

Dalam jurnal Ulumul Qur’an tahun 1992 disebutkan konsep tentang fitrah selalu dikaitkan dengan konsep manusia menimbulkan perbincangan pula tentang hakikat manusia dan citra tentang dirinya sendiri. Dalam Al Qur’an, citra manusia digambarkan dalam tokoh Nabi Adam as. Adakalanya Nabi Adam as tampil sebagai Nabi pertama, adakalanya sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah. Karena itu, pengertian fitrah akan mengacu kepada tokoh ini. Salah satu citra Nabi Adam as yang menonjol adalah kedudukannya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Manusia adalah makhluk Allah satu-satunya yang berani mengemban amanah-Nya, karena ia diberi kemampuan unik, yaitu mengenal nama-nama benda. Dengan kemampuan ini, manusia mengembangkan ilmu untuk menunaikan amanah itu.

Prof Dr Muhibuddin Waly MA berpendapat, fitrah yang berarti suci atau murni adalah kondisi yang sesuai dengan asal kejadian alam manusia, ketika pertama diciptakan Tuhan. Manusia adalah makhluk yang terikat dengan perjanjian primodialnya sebagai makhluk, sadar kedudukannya sebagai ciptaan Sang Khaliq. Namun, dalam perjalanan sejarah, manusia mengalami proses yang menjauhkan dirinya dari fitrah tersebut. Karena itu, setiap manusia harus selalu menjaga fitrahnya dengan iman dan taqwa, sehingga bisa mengendalikan syahwat dan hawa nafsu.

Menurut Waly, orang yang baik karena batinnya terjaga dalam perbuatan sehari-hari, sehingga mata, telinga, tangan, kaki dan pikirannya selalu berusaha melakukan perbuatan yang bersih. Ini berarti moral orang kembali kepada fitrah yang baik, karena moral itu cerminan dari fitrah. ”Jadi kalau ada orang yang mengaku berpuasa sebulan penuh, tapi setelah lewat Ramadhan kembali kepada kehidupan jahiliyah, artinya mereka termasuk puasa awam, puasanya orang itu tidak menghasilkan apa-apa, kecuali lapar dan haus di siang hari”.

Idul Fitri juga berrti usai melakukan revolusi moral, karena orang-orang yang beriman telah berusaha melebur dosa kemanusiaan mereka. Dosa kemanusiaan itu muncul, karena tanggung jawab kekhalifahan umat manusia tidak  teraktualisasi dalam ritme Ilahiah sebagaimana dikehendaki-Nya.

Sementara Prof Dr Amine Rais MA mengatakan, selayaknya usai bulan Ramadhan, iman dan semangat umat Islam menjadi bertambah. Karena dengan ruh puasa, senantiasa dapat menjaga kejujuran dan kedisiplinan. Apabila bangsa ini tidak jujur dan tidak disiplin, nantinya menjadi lupa terhadap rahmat Allah, sehingga rahmat-Nya mencabut dari bumi Nusantara ini.

Amien mengatakan, sekarang ini bangsa kita hidup dalam keadaan belum sejahtera sama sekali. Pemerintah masih sulit menyuguhkan perekonomian yang baik, supremasi hukum hanya sebuah dekorasi. Hukum belum ditegakkan, malah kadang-kadang dibuat berputar-putar, berbelit-belit, kadang-kadang yang salah jadi pahlawan. Selain itu, dalam keseharian kita cenderung menganggap enteng sesuatu hal, misalnya terima uang puluhan milyar, kok sudah lupa dan sebagainya.

Sedangkan KH Abdullah Gymnastiar – Pimpinan Pondok Pesantren  Darut Tauhid Bandung mengatakan, budaya cinta dunia atau materialistis adalah biang masalah yang beranak pinak dengan kesombongan, kemewahan, kedengkian, keserakahan, kedzaliman dan bercucu pada permusuhan, keinginan untuk menghancurkan orang lain dan akibatnya yang dirasakan masyarakat sekarang ini.

Menurut A’a Gym – sapaan akrab Abdullah, ”Kita harus membangun nurani masyarakat dengan cara mensosialisasikan obat penyembuhnya, yaitu membangun hidup mulia dengan bersahaja, hidup proporsional, tidak berbudaya bersembunyi di balik topeng manusiawi”. Ada beberapa hal yang harus diperbuat, antara lain keteladanan dari para pemimpin. Karena masyarakat sesungguhnya sangat tercuri hatinya kepada para pemimpin yang bisa berbuat banyak, namun amat bersahaja dalam hidupnya.

”Pada saat yang sama, masyarakat pun teramat curiga dan dengki kepada para pemimpin yang hidup glamour, yang mereka yakini semuanya itu adalah uang rakyat. Karena itu, kita harus membudayakan memilih para pemimpin yang berani hidup bersahaja dan mengutamakan kemampuan dengan adil dan profesional, dibanding dengan orang yang hanya mampu mempertontonkan kedudukan dan kekayaannya. Selain itu, kelemahan bangsa Indonesia saat ini adalah belum sungguh-sungguh memprogramkan untuk menghidupkan dan membangkitkan kekuatan nurani yang menuntun akan pikiran, sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemulian dan kehormatan yang hakiki. Rupanya yang sedang terjangkit di negeri kita secara umum adalah penyakit hati nurani”.

Dengan berakhirnya Ramadhan tahun ini, memberi berkah bagi umat Islam Indonesia dan memberi pancaran sehingga kalbu pemimpin dan rakyatnya bersinar. Usai bulan yang penuh barakah dan nikmat, semoga moral kita menjadi lebih baik. Semoga.***

Leave a Comment