breaking news New

Bijaksana dalam Islam

KESALEHAN tanpa  kearifan tiadalah bernilai, apalah artinya kesalehan bila pergaulan dimasyarakat  demikian  buruk  akhlaknya.  Bersedekah tapi menyakiti  perasaan orang lain, menolong tetapi meminta jasa atau imbalan. Rajin bangun malam, namun tak pandai menjaga amanah, berilmu tapi tidak menggunakan ilmunya dengan benar. Inilah problema umat, Ramadhan masih sebatas ritual tanpa hakikat.

Bukanlah Mukmin sejati, , bila kesalehan ditujukan untuk dirinya sendiri tanpa menghiraukan penderitaan orang lain. Lihatlah berapa banya orang yang berpuasa, namun kesedar menahan lapar dan dahaga belaka. Dalam berpuasa, umat belum mampu menjaga lisan dan menghilangkan kedengkian terhadap sesamanya. Sering bangun malam (menunaikan shalat tahajjud dan ibadah lainnya), namun nilil etika dan tata krama pergaulan di masyarakat. Kalau berzakat, segelintir umat senang menyebut-nyebut atau mengungkit-ungkit pemberiannya kepada orang yang diinfakkannya dan sebagaiya.

Dalam Al Qur’an Allah SWT menegaskan, ”Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkah kan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (Q.S. Al Baqarah : 264)

Adalah kenyataan, betapa kesalehan kita selama ini hanya diperuntukan untuk kepentingan pribadi dan saat ini baru sebatas ritual, belum mencapai tingkat kearifan dan nilai hakiki sesungguhnya. Semestinya, semakin tinggi nilai seseorang, semakin tawadhulah (rendah hati) pribadinya dan baik akhlaknya, tidak merasa diri paling pintar, paling benar dan paling segala-galanya. Seseorang dapat dikatakan saleh dan mendekati Mukmin sejati adalah bila hati, kata dan perbuatannya seia sekata. Disatu sisi, ia mampu menempatkan diri  dengan  siapa  ia  bersosialisasi  dan   berkomunikasi   secara  bijaksana.  Disisi  lain,  ia tidak menggunakan ilmunya untuk meremehkan orang yang lebih rendah pendidikannya

Tidak dapat dipungkiri, banyak orang pintar dinegeri ini dan tidak sedikit mereka yang pandai memberi petuah, namun kenyataannya sedikit sekali orang yang mampu bersikap bikajsana. Seseorang dikatakan bijaksana, bila ia dewasa dalam berpikir dan bertindak. Dalam bertutur kata dan setiap mengambil keputusan, ia tidak hanya mengendalikan rasio, tapi juga perasaan dan pengalaman hidupnya. Seseorang dikatakan bijaksana, bila dirinya tidak berat sebelah ketika memvonis orang lain bertindak salah atau benar. Agar  bersikap adil, ia berupaya sekuat tenaga untuk melihat akar permasalahan dan mengetahui latar belakang seseorang, karena kekeliruan dan kesalah-pahaman itu bisa terjadi. Sebab itu ia tidak ingin mementingkan diri dan kelompoknya sendiri tatkala dihadapkan pada sebuah masalah yang rumit.

Hal yang Menghalangi Perilaku Bijaksana

Iman Ali as berkata, ”Tidak memperoleh manfaat hikmah akal yang terbelenggu dengan marah dan syahwat” Akal yang merupakan sumber pemikiran manusia, dapat dipengaruhi dan dikalahkan oleh pelbagai faktor yang selanjutnya menjadi pemikiran manusia, perilakunya dan tindakannya tidak bijaksana. Beberapa hal yang bisa mempengaruhi akal, pemikiran dan perbuatan manusia yang menghalangi diri menggunakan akal dan hikmah.

Pertama, faktor kejiwaan. Sebagian orang mempunyai pandangan, bahwa kesulitan yang dimiliki manusia dalam bidang pemikiran dan tingkah laku adalah urusan akal belaka dan tidak ada hubungannya dengan jiwa manusia. Yang benar tidaklah demikian, justru kesulitan tersebut menjadi masalah akal dan pemikiran. Untuk itu, yang perlu kita lakukan terlebih dahulu adalah mengobati jiwa sebelum kita meletakan serangkaian aturan bagi akal, pemikiran dan tingkah laku.

Dalam diri manusia terdapat sekumpulan naluri atau syahwat dan hawa nafsu. Adalah salah satu faktor terpenting yang menghalangi hikmah dari diri manusia. Iman Ali as berkata, ”Hawa nafsu adalah musuh akal”. Sedang akar kejiwaan dari penghalang hikmah dalam diri manusia terdapat dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu kekuatan akal dan kekuatan kebodohan. Kekuatan kebodohan adalah kekuatan yang bersumber dari watak wujud manusia yang tidak sempurna. Adapun akal adalah karunia yang Allah berikan kepada manusia. Sesungguhnya kecintaan manusia yang sangat kepada materi bersumber dari wataknya. Akar kejiwaan dari  kesalahan-kesalahan dan penghalang-penghalang hikmah tidak lain kecuali pantulan dan ekspresi dari watak tersebut.

Kedua, warisan pemikiran.  Pemikiran yang diwarisi dari orang tua jika itu salah, maka hal itu akan menjadi faktor yang menjerumuskan kepada kesalahan dan menghalangi dari hikmah. Perawisan pemikiran dapat berlangsung dengan pelbagai cara dan cara yang terpenting adalah pendidikan.Karena besarnya pemikiran yang diwarisi dari kedua orang tua seimbang dengan besarnya faktor yang menekan anak untuk mengikuti kedua orang tuanya.

Allah SWT berfirman, ”Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ”sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kamu menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (QS. Az Zukhruf : 23)

Ketiga, pergaulan sosial. Pergaulan memberi pengaruh kepada manusia, baik dalam pola pikir maupun dalam perbuatan. Jika masyarakat lingkungannya adalah masyarakat yang jahat, maka keselarasan individu dengan masyarakat yang seperti ini kan menjadikannya manusia yang jahat dan tidak bijaksana. Begitu juga sebaliknya, akan tetapi, kita tidak boleh mengabaikan peranan dan kemampuan individu untuk tetap merdeka dan mempertahankan nilai-nilai yang dimilikinya. Dia dapat membandingkan dan kemudian menolak tekanan sosial, jika ia mau.

Salah satu faktor yang menjerumuskan manusia kepada kesalahandan menjadi penghalang memperoleh hikmah adalah apa yang disebut dengan pencucian otak. Secara singkat pencucian otak dilakukan dengan menjadikan seseorang meyakini dan mengakui bahwa pemikiran-pemikiran yang baru. Itu dilakukan dengan menggunakan metode dan alat-alat tertentu, misalnya dengan memberikan tekanan-tekanan mental seperti pengisolasian, pendoktrinan dan sebagainya atau tekanan-tekanan fisik seperi penyiksaan.

Keempat, penyimpangan kejiwaan. Penyimpangan kejiwaan yang berakibat kepada penyimpangan akhlak, mempuyai peranan yang sangat besar dalam menyesatkan umat manusia. Ia merupakan penghalang hikmah yang sangat kuat. Diantara faktor-faktor yang mempuna kaitan dengan faktor kejiwaan yang menghalangi hikmah adalah faktor ekonomi dengan ketiga deminsinya, yaitu alat produksi, cara distribusi dan standar umum. Ketiga deminsi ekonomi ini memerikan pengaruh yang luas terhadap pemikiran, watak dan tingkah lakumanusia selama hidup.

Kelima, faktor-faktor yang bersifat materi. Faktor ini adalah lingkungan alam, baik yang pengaruhnya bersifat internal seperti narkotika dan jenis makanan maupun  yang  bersifat  eksternal  seperti   suhu   panas, dingin, lembab dan kering, baik bersifat sementara seperti lemah dan sakit maupun yang permanen seperti tingkat kecerdasan dan ras. Faktor-faktor ini memberi pengaruh kepada pemikiran-pemikiran dan perilaku manusia. Bahkan terkadang menjadi faktor yang paling dominan dalam mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang salah dan  tidak bijaksana. Kebodohan termasuk faktor utama yang menghalangi manusia menjadi bijak. Islam memberi perhatian yang sangat besar terhadap ilmu, belajar dan mengajar dan memerangi dengan sangat kebodohan dan buta huruf.

Yang menghalangi hikmah manusia menjadi bijak, yaitu cinta dan rakus kepada dunia, tunduk dan patuh kepada syahwat dan hawa nafsu, tunduk dan patuh kepada setan, tidak berusaha menghindar dari dosa dan maksiat, marah dan ceroboh, banyak bicara, meminati apa yang diharamkan Allah, lahap dan rakus dalam makan, membebaskan lidah dan tidak menjaganya, sibuk memperhatikan aib orang lain dan tidak sibuk memperhati kan aib diri sendiri, panjang lebar dalam bicara berlaku keras terhadap saudara, teman dan sesama Muslim, bohong dalam bicara, melalaikan amanat dan tidak menunaikannya, melibatkan diri dalam urusan yang tidak ada manfaatnya, sombong dan takabur serta berkhlak tercela.

Bijaksana

Bilamana kearifan seseorang dapat dibuktikan kebenaranya, yakni bila ia tidak peduli bahwa keputusannya akan menurunkan kredibiktasnya atau tidak. Baginya ia hanya manusia biasa yang sedang menjalankan tugsanya sebagai khalifah dan hanya Allah-lah tujuannya. Seorang yang bijaksana tidak akan menilai dirinya, bahwa kesalehan pada dirinya tidak lain karena do’a dan munajatnya orang-orang yang saleh. Itu semua berkat hidayah dan rahmat yang diberikan Allah kepadanya. Dalam beribadah, ia akan merasa kurang apabila dirinya belum mampu membahagiakan orang lain. Karenanya ia selalu disibukan mencari kekurangan yang ada, bukan mencari aib dan kejelakan saudaranya.

Seseorang baru dapat dikatakan bijaksana, bila ia berupaya untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaannya, tanpa menunjukan pribadi ganda. Secara horizontal, ia bersungguh-sungguh mela- yani masyarakat dengan baik. Mulai dari niat dan segala tindak tanduknya akan senantiasa lurus, meski teramat banyak godaan yang menari-nari di depan hidung-nya.Juga berusaha untuk tidak mengecewa kan orang lain, ia akan merasa bahagia kalau dapat menyenang kan hati orang lain secara proporsional.

Puncak kesalehan seseorang akan terlihat, bila akhlaknya menjadi suri teladan di dalam lingkungan sosialnya. Namun demikian, ia tidak merasa paling alim dan tidak gila hormat ketika popularitas dan sanjungan sana sini menerpanya. Ia akan selalu bersyukur dengan pemberian Allah, yang banyak maupun sedikit. Sebagai orang yang beriman, ia juga tidak merasa alergi bila dikritik orang lain. Bahkan sebaliknya, ia akan merasa berterima kasih bila ada orang lain yang berani menyampaikan kelemahannya dan kekurangannya.

Ketika seseorang mencapai tingkatan kesalehan, ia tidak boleh memiliki sikap takabur, bahwa sayalah yang paling baik amalnya, paling tawadhu (rendah hati) serta tinggi keimanannya dan seterusnya. Bukan tidak mungkin dengan ketakaburannya itu malah membuat dirinya menjadi angkuh, tidak men dengar nasehat dari orang lain. Atau seorang atasan yang tinggi hati akan merasa tersinggung bila bawahannya menyampaikan saran dan kritikan  membangun, oleh karena itu, ia menganggap dirinya paling hebat. Memang untuk menjadi orang bijaksana tidaklahmudah, perlu latihan secara terus menerus. Semoga. ***

Bulan suci Ramadhan usai, setiap insan yang beriman menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh keceriaan. Namun adakah pancaran Ramadhan membekas, sehingga moral bangsa menjadi lebih baik. Ramadhan dengan ibadah puasa yang sangat strategis itu sudah pergi dan insya Allah ia akan datang lagi pada tahun depan. Insya Allah kita pun diizinkan Allah menjumpainya kembali. Bagi umat Islam dimanapun termasuk di Indonesia, Idul Fitri berarti kembali kepada Fitrah. Fitrah adalah sebuah kata yang cukup dikenal dan sering diucapkan, kembali kepada keadaan normal, yakni normal dalam kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan rohani secara seimbang.

Menurut Prof Umay Djafar Sidik MA, manusia yang baik adalah manusia yang mampu dalam kesimbangan jasmani dan rohani, bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat sebagaimana sebuah do’a yang sering dipanjatkan usai shalat lima waktu. Keseimbangan juga tergambar dalam kata al-dunya dan al-akhirat, masing-masing terdiri dari enam huruf dan tercantum dalam Al Qur’an sebanyak 145 kali. Karena itu, setiap insan yang berpuasa dan setelah lepas bulan Ramadhan berusaha menjaga keseimbangan itu sehingga tidak terjerumus kepada kehidupan duniawi belaka, sedang kecenderungan akhirat menjadi terabaikan.

Kata Fitrah juga acapkali diucapkan terutama di akhir bulan puasa, sebelum melaksanakan shalat Id. Setiap insan muslim menunaikan kewajiban membayar zakat fitrah, biasanya dilakukan malam hari menyongsong Hari Raya Idul Fitri. Di sini, kata Id berasal dari kata ”ada” yang berarti kembali. Adapun kata ”fitrah” berasal dari kata fathr, bisa berarti membuka. Bila dihubungkan dengan kewajiban puasa Ramadhan, kata ini mengandung makna ”berbuka puasa”.

Dalam Al Qur’an, kata fitrah berkaitan dengan soal ciptaan Allah, baik alam maupun dengan manusia. Kata-kata ”Fitrah Allah” dalam Al Qur’an dan terjemahannya (Depag, 1992), dialih bahasakan sebagai ”ciptaan Allah”. Dalam Al Qur’an itu sendiri, ada sebuah surat yakni fathr, artinya Pencipta yaitu Allah. Nama surat tersebut berasal dari kalimat yang mengawali ayat pertama, ”Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi”. Kata-kata fathiri I-samawati wa I-arl, terulang beberapa kali dala Al Qur’an, yakni QS Al An’am : 14, QS Yusuf : 101, QS Ibrahim : 10, QS Fathr : 1 dan QS As-Sura : 11.

Dalam jurnal Ulumul Qur’an tahun 1992 disebutkan konsep tentang fitrah selalu dikaitkan dengan konsep manusia menimbulkan perbincangan pula tentang hakikat manusia dan citra tentang dirinya sendiri. Dalam Al Qur’an, citra manusia digambarkan dalam tokoh Nabi Adam as. Adakalanya Nabi Adam as tampil sebagai Nabi pertama, adakalanya sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah. Karena itu, pengertian fitrah akan mengacu kepada tokoh ini. Salah satu citra Nabi Adam as yang menonjol adalah kedudukannya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Manusia adalah makhluk Allah satu-satunya yang berani mengemban amanah-Nya, karena ia diberi kemampuan unik, yaitu mengenal nama-nama benda. Dengan kemampuan ini, manusia mengembangkan ilmu untuk menunaikan amanah itu.

Prof Dr Muhibuddin Waly MA berpendapat, fitrah yang berarti suci atau murni adalah kondisi yang sesuai dengan asal kejadian alam manusia, ketika pertama diciptakan Tuhan. Manusia adalah makhluk yang terikat dengan perjanjian primodialnya sebagai makhluk, sadar kedudukannya sebagai ciptaan Sang Khaliq. Namun, dalam perjalanan sejarah, manusia mengalami proses yang menjauhkan dirinya dari fitrah tersebut. Karena itu, setiap manusia harus selalu menjaga fitrahnya dengan iman dan taqwa, sehingga bisa mengendalikan syahwat dan hawa nafsu.

Menurut Waly, orang yang baik karena batinnya terjaga dalam perbuatan sehari-hari, sehingga mata, telinga, tangan, kaki dan pikirannya selalu berusaha melakukan perbuatan yang bersih. Ini berarti moral orang kembali kepada fitrah yang baik, karena moral itu cerminan dari fitrah. ”Jadi kalau ada orang yang mengaku berpuasa sebulan penuh, tapi setelah lewat Ramadhan kembali kepada kehidupan jahiliyah, artinya mereka termasuk puasa awam, puasanya orang itu tidak menghasilkan apa-apa, kecuali lapar dan haus di siang hari”.

Idul Fitri juga berrti usai melakukan revolusi moral, karena orang-orang yang beriman telah berusaha melebur dosa kemanusiaan mereka. Dosa kemanusiaan itu muncul, karena tanggung jawab kekhalifahan umat manusia tidak  teraktualisasi dalam ritme Ilahiah sebagaimana dikehendaki-Nya.

Sementara Prof Dr Amine Rais MA mengatakan, selayaknya usai bulan Ramadhan, iman dan semangat umat Islam menjadi bertambah. Karena dengan ruh puasa, senantiasa dapat menjaga kejujuran dan kedisiplinan. Apabila bangsa ini tidak jujur dan tidak disiplin, nantinya menjadi lupa terhadap rahmat Allah, sehingga rahmat-Nya mencabut dari bumi Nusantara ini.

Amien mengatakan, sekarang ini bangsa kita hidup dalam keadaan belum sejahtera sama sekali. Pemerintah masih sulit menyuguhkan perekonomian yang baik, supremasi hukum hanya sebuah dekorasi. Hukum belum ditegakkan, malah kadang-kadang dibuat berputar-putar, berbelit-belit, kadang-kadang yang salah jadi pahlawan. Selain itu, dalam keseharian kita cenderung menganggap enteng sesuatu hal, misalnya terima uang puluhan milyar, kok sudah lupa dan sebagainya.

Sedangkan KH Abdullah Gymnastiar – Pimpinan Pondok Pesantren  Darut Tauhid Bandung mengatakan, budaya cinta dunia atau materialistis adalah biang masalah yang beranak pinak dengan kesombongan, kemewahan, kedengkian, keserakahan, kedzaliman dan bercucu pada permusuhan, keinginan untuk menghancurkan orang lain dan akibatnya yang dirasakan masyarakat sekarang ini.

Menurut A’a Gym – sapaan akrab Abdullah, ”Kita harus membangun nurani masyarakat dengan cara mensosialisasikan obat penyembuhnya, yaitu membangun hidup mulia dengan bersahaja, hidup proporsional, tidak berbudaya bersembunyi di balik topeng manusiawi”. Ada beberapa hal yang harus diperbuat, antara lain keteladanan dari para pemimpin. Karena masyarakat sesungguhnya sangat tercuri hatinya kepada para pemimpin yang bisa berbuat banyak, namun amat bersahaja dalam hidupnya.

”Pada saat yang sama, masyarakat pun teramat curiga dan dengki kepada para pemimpin yang hidup glamour, yang mereka yakini semuanya itu adalah uang rakyat. Karena itu, kita harus membudayakan memilih para pemimpin yang berani hidup bersahaja dan mengutamakan kemampuan dengan adil dan profesional, dibanding dengan orang yang hanya mampu mempertontonkan kedudukan dan kekayaannya. Selain itu, kelemahan bangsa Indonesia saat ini adalah belum sungguh-sungguh memprogramkan untuk menghidupkan dan membangkitkan kekuatan nurani yang menuntun akan pikiran, sikap dan tingkah laku menjadi penuh nilai kemulian dan kehormatan yang hakiki. Rupanya yang sedang terjangkit di negeri kita secara umum adalah penyakit hati nurani”.

Dengan berakhirnya Ramadhan tahun ini, memberi berkah bagi umat Islam Indonesia dan memberi pancaran sehingga kalbu pemimpin dan rakyatnya bersinar. Usai bulan yang penuh barakah dan nikmat, semoga moral kita menjadi lebih baik. Semoga.***

Leave a Comment