breaking news New

Memenuhi Hak-hak Anak dalam Islam

Anak adalah salah satu topik lama yang senantiasa aktual. Hal ini antara lain disebabkan anak merupakan generasi baru yang menjadi tumpuan kasih sayang dan sekaligus tumpuan harapan, bahwa kelak anak pasti akan mengisi lembaran sejarah keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.  Tetapi kelak anak merupakan sebuah generasi, masalah anak lebih dari sekedar curahan dalam bebarapa tahun serta tumpuan harapan pemegang peran ketika keadaan sudah memerlukan mereka.

Dalam sejarah Islam disebutkan, anak itu manusia fitrah yang sejak dalam perut sang ibu tertanam benih kebajikan yaitu iman. Tugas orang tua tidak lagi menanamkan iman itu, melainkan mendidik agar benih iman yang telah ada dapat ditumbuhkan dan dipupuk. Karena itu, menjadi orang tua bukan hanya menjadi ‘ayah dan ibu’ tetapi juga berperan sebagai  Murabbi atau pendidik. Sarana pendidikannya adalah rumah tangga, dimulai dengan perkawinan.

Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an, “Dan diantara tanda-tanda kekeuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dan jenismu sendiri. Supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya diantara rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berpikir”. (QS. Ar Ruum (3) “ 21).

Rasa aman dalam keluarga dan suasana kasih sayang, tidak bisa diganti dengan benda atau uang. Rumah tangga memang dibeli dengan uang, tetapi rumah tangga tidak bisa dibeli atau dihargai dengan uang atau materi. Apalagi kasih sayang dalam hubungan keluarga, jelas nilainya tidak tergantikan oleh apapun. Suasana rumah tangga yang sakinah yang hubungan-hubungannya diwarnai cinta dan kasih sayang akan menjadi sarana pendidikan yang efektif.

Sebagai Murabbi (pendidik), orang tua harus memulai dari dirinya sendiri. Ini merupakan langkah awal orang tua dalam mengemban tanggung jawabnya sebagai pendidik. Jika menginginkan anak menjadi baik, orang tua harus membuat dirinya baik agar mempunyai kewibawaan dalam mempengaruhi dan mengarahkan pertumbuhan nilai dan sikap anak-anaknya.

Al Qur’an menegaskan, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab, maka tidaklah kamu berpikir”. (QS. Al Baqarah (2) : 44). Dalam hal ini orang tua perlu mengetahui norma dan nilai perilaku yang baik dan berusaha hidup sesuai dengan nilai dan norma itu.

Sarana pokok dalam pendidikan keluarga adalah pembentukan akhlak, ciri pokoknya adalah mengetahui akhlak dan rasa tanggung jawab. Seorang yang bertanggung jawab adalah  yang mengetahui nilai dan norma, mana yang boleh, mana yang terlarang, mana yang hak dan mana yang kewajiban, kemudiaan berusaha hidup sesuai dengan itu.

Untuk itu, anak harus diantarkan pada tingkat perkembangan yang memikul tanggung jawab. Dalam arti mampu memutuskan sendiri segala tindakannya sesuai nilai dan akhlak mulia, dampaknya akan kelihatan dalam kemampuan anak dapat hidup serasi dan bahagia dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Apabila anak telah menjadi dewasa, dalam arti telah mampu memikul tanggung jawabnya yang pokok itu, maka selesailah tugas orang tua dalam memenuhi hak pendidikan anaknya.

Anak yang telah lahir ke dunia menurut Islam telah terikat oleh perjanjian yang dibuat pada waktu Allah SWT menanamkan fitrah agama ke dalam roh manusia. Perhatikan ayat Al Qur’an “Dan kalu Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaan seperti anjing jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, jika kamu membiarkannya juga dia ulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan  ayat-ayat Kami, maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikri”. (QS. A’raf (7) : 176).

Perjanjian dengan Allah SWT itu mempunyai konsekuensi, bahwa seorang manusia yang lahir di dunia ini berkewajiban menghambakan  diri kepada Allah SWT. Bentuknya adalah mematuhi segala perintah-Nya dan menghentikan segala larangan-Nya dalam seluruh aspek kemanusiaan dan kehidupannya. Aspek kemanusiaan adalah jasmani dan rohani, sedangkan aspek kehidupan-Nya ialah dunia dan akhirat.

Karena itu, tugas   ibadah boleh dikatakan bukanlah suatu fungsi yang ringan. Tugas itu bahkan sangatberat, apalagi mengingat, bahwa manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (QS. An Nissa (4) : 28).

Itulah sebabnya     Allah SWT memberikan segala macam perlengkapan yang diperlukan manusia dan membuatkan sarana pembinaannya agar fungsi yang diembannya itu terlaksana dengan sebaik-baiknya. Perlengkapan itu di dalam Al Qur’an disebut “Rezki”, meliputi jasmani, akal, alam, material dan agama. Sedang sarana pembinanya disebut “ilmu dan amal” yang oleh Al Qur’an selalu dirangkaikan menjadi satu dalam bahasa positif, yaitu  beriman dan beramal saleh.

Setiap orang tidak memandang kesejahteraan anak itu hanya dari segi pemenuhan matei, sebab mereka hanyalah bagian kecil rezki Allah SWT. Anak juga harus dimanjakan dengan rezki Allah SWT yang lain, yaitu akalnya dan agamanya, sehingga mereka itu  nanti bukan hanya berbadan sehat melainkan juga berilmu banyak, bercita-cita tinggi dan berakhlakul karimah.

Disamping itu, anak harus juga dibekali keterampilan ibadah khusus, seperti pembiasan berdo’a, shalat , puasa, zakat bahkan haji (jika mungkin). Ibadah khusus ini akan menjadi sarana pembinaan kepribadian yang paling efektif dan mandasar. Semoga.

Leave a Comment