breaking news New

Pemimpin dan Teladan Rasulullah SAW

Secantik-cantiknya budi pekerti adalah akhlaknya Rasulullah SAW. Beliau  reformis sejati, penyatu umat, tegas tetap bijaksana, penyantun kaum yang lemah, hakim  yang  adil, ayah yang berwibawa dan hidupnya bersahaja. Hancur tegaknya suatu bangsa, tergantung bagaimana akhlaknya pemimpinnya. Negara ini ingin selamat, teladani akhlaknya Rasulullah SAW.

Berbicara soal pemimpin, tentunya memang tidak terbatas dalam konteks negara. Pemimpin itu bisa di dalam tubuh partai, organisasi masyarakat, perusahaan, lembaga pendidikan sampai terkecil dalam sebuah keluarga. Kata Nabi Muhammad SAW, kita semua adalah pemimpin, yang kelak dimintai pertanggung jawabannya.

Tak berlebihan, bila memandang Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang agung dan istimewa. Dalam dirinya terdapat perpaduan yang menakjubkan, sufi yang negarawan dan pemimpin spiritual yang lekat dengan aktivitas sosial. Sulit bila dibandingkan figur Rasulullah SAW dengan tokoh-tokoh pemimpin  besar di dunia sekarang ini,  yang tidak mengindahkan akhlak sebagai panglima.

Pantas saja bila negeri ini bagaikan kapal yang tengah karam (tenggelam), di mana pemimpinnya terlalu sibuk mengurus penampilannya dan apalagi kalau bukan “urusan perutnya”. Tidak sedikit penyakit para pemimpin di negeri ini, hanya memikirkan privatisasi dan mementingkan kelompok nya sendiri.

Bagaimana negeri ini selamat, bila pemimpinnya gemar berbuat, asal bunyi (asbun), tidak amanah, merasa berkuasa, senang dijilat dan seterusnya. Negeri ini amburadul, adalah lantaran tipis imannya, Islam sekedar papan nama. Bila perlu Islampun dijadikan komoditi, asal tujuannya tercapai. Akibatnya, para pemimpin negeri ini, tidak lagi waro (tidak menjaga kehormatan). Yang ada dalam benaknya tak lain mengejar popularitas, jabatan dan kedudukan, walau ditempuh dengan cara menyakiti kawan sendiri.

Dalam kenyataannya, sering dijumpai pemimpin yang “banci” atau dengan kata lain tidak bersikap kesatria, ketika terbukti melakukan sebuah kekeliruan. Dengan arogan, bahkan ia tidak mengakui sebagai kesalahan. Dirinya merasa benar sendiri, orang lain dikatakan salah. Misalnya sebuah kritikan, dipandang sebagai sebuah ancaman  yang dapat menjatuhkannya. Anehnya, ketidak senangannya dikritik menjadi ancaman yang mengkritiknya.           

Lain lagi dengan pemimpin yang merasa sok benar, terkenal dan punya pengikut banyak. Pemimpin semacam ini terkadang lebih merasa Islami, sementara orang lain  belum Islami. Banyak pemimpin partai atau organisasi masyarakat (ormas)  Islam katakanlah, tidak menyadari dirinya telah mengindap kesombongan intelektual dan ada kesan ingin “dikultuskan”. Pemimpin yang memiliki basis massa semacam ini, ada kecenderungan muncul arogansi, entah itu dari pemimpinnya sendiri, bisa pula dari pengikutnya. Bukan sekali terjadi, pemimpin suatu kelompok ketika disinggung harga dirinya, yang muncul adalah sikap reaksiner berlebihan dari pengikutnya tadi. Bukan hanya marah, tapi membela mati-matian.

Bercermin

Teramat disayangkan, bila pribadi agung Rasulullah SAW tak menjadi cermin para pemimpin masa kini. Muhammad hanya hadir dalam ruang privat - jalur vertikal Tuhan dan manusia. Kesuciannya ditempatkan pada langit-langit kosong, tidak membumi dan akhirnya jatuh pada mistifikasi. Perlahan tapi pasti, terjadi “pembunuhan” karakter Muhammad secara perlahan. Kepribadiannya yang sederhana, bijak, pembela kaum yang lemah (mustadh ‘afin) dan sifat tawadhu, telah terkubur dalam sebuah kubangan.

Sejauh yang kita ketahui, demikian dominasi pribadi ganda pemimpin Muslim. Pemimpin acapkali membuat jarak antara urusan agama dengan duniawi. Betapa tidak, perilaku hiporket disebut bijaksana, korup dipandang kecerdikan, kebengisan dipandang sebagai kekonsistenan, kelicikan diyakini sebagai  kecerdasan dan reformis dianggap sebagai pelopor. Semakin piawai membungkus kelicikan dengan argumentasi ilmiah, semakin hebatlah ia disebut sebagai politikus sejati. Sampai-sampai mucul ‘dalil politik’ sebagai pembenaran. “Tidak ada teman atau musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan pribadi”.

Menyimak perkembangan politik yang terjadi belakangan ini, teramat miris mendengar  dan melihat pemimpin lemah dalam membangun ukhuwwah Islamiyah. Sejauh ini hampir sebagian besar partai Islam terbelah dua, seperti PPP DR. H. Hamzah Haz dengan PPP Reformasi  (saat ini PBR) DR. KH. Zainuddin MZ yang saat ini kembali ke PPP, PKB (Kuningan) DR. H. Alwi Shihab, MA dengan PKB (Batung Tulis) H. Matori Abdul Djalil, SH. Kini PKB kembali pecah, PKB  Muhaimin Iskandar dengan PKB KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), PPNUI dengan PKNU dan sebagainya. Setidaknya banyak tokoh-tokoh Islam yang seharusnya bersatu, justru memunculkan konflik-konflik baru.

Para pemimpin negeri ini diingatkan Allah SWT dalam Al-Qur’an; “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS 3:103).

Dalam surah yang lain Allah SWT menegaskan; “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang meyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersadarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sadar” (QS 8:46).

Bila dikaitkan dengan kondisi pemimpin Islam negeri ini, wajar bila ada yang mengatakan, bahwa pemimpin Islam negeri ini telah kehilangan jati dirinya. Pemimpin begitu asyik dengan imajinasi-imajinasi politik, ujung-ujungnya tak lain meributkan soal perut, duit dan kursi empuk. Di sisi lain, pemimpin begitu fasih bicara konsep, sementara di dalam lingkungan internnya sendiri (keluarga) amat sangat tidak becus.

Dikatakan Cendekiawan Muslim Indonesia - Drs. H. Jalaludin Rakhmad, MSi, Muhammad SAW berhasil menciptakan masyarakat Madinah yang amat kuat, lepas dari kekacauan disekitarnya dan kelompok kabilah yang mulai bergabung, walaupun tidak seluruhnya komit dengan visi keagamaannya. Muhammad memiliki konsep yang cantik sebagai seorang negarawan, yakni umat harus kuat dan perkasa. Tujuan Muhammad bukan kekuatan politik, melainkan menciptakan masyarakat yang baik. Sedang Imam Syafi’i mengatakan, pemimpin yang baik adalah orang bisa memimpin dengan bantuan kaum atau golongannya.

Karena itulah pemimpin secara idealnya, adalah harus beriman, memiliki kecakapan sesuai bidangnya, diterima masyarakat dalam segala lapisan, mengupayakan terwujudnya kemaslahatan umat. Seorang pemimpin tidak boleh arogan dan tidak pula otoriter serta sebagai manusia biasa ia harus rela dikritisi. Terpenting, seorang pemimpin mengutamakan kepentingan publik (umum) ketimbang kepentingan pribadi dan keluarganya sendiri. Jadi, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mendidik rakyatnya dan sangat takut dengan Tuhannya.

Dalam keseharian, mereka yang mengaku dirinya pemimpin umat, toh nyatanya hanya pantas dikatakan sebagai pemimpin kelompok, partai atau ormas tertentu. Dalam mengambil kebijakan misalnya, pemimpin tersebut hanya berpihak pada kelompoknya, bukan untuk kemaslahatan umat yang lain. Jelas, pemimpin seperti itu belum dikatakan sebagai pemimpin umat rahmatan lil‘alamin. Karena yang dikatakan pemimpin umat sesungguhnya adalah yang mengayomi siapapun dan dimanapun umat itu berada, tanpa melihat apa sukunya, agamanya dan warna kulitnya (ras).

Keteladanan

Dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 128, Allah SWT berfirman; “Sesungguhnya telah datang kepadamu  Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehmu penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan bagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin”.

Beberapa keteladanan yang muncul dari perilaku kehidupan Rasulullah SAW, yakni hidup Rasulullah SAW sangat sederhana, dikenal sangat dermawan, penegak keadilan, pemaaf dan tidak pendendam, pribadi yang amanah dan jujur. Keteladanan tersebut, baru sebagian dari sekian banyak perilaku Rasulullah SAW yang luhur dan mulia. Sebagai umat manusia yang jauh dari masa kehidupan waktu itu, sepatutnyalah terus mengikuti akhlak dan pribadi Rasulullah SAW.

Dalam konteks kekinian, perilaku kehidupan Rasulullah SAW dapat dijadikan keteladanan bagi umat manusia, khususnya umat Islam, terlebih kepada pemimpin bangsa. Mestinya pemimpin dan umat manusia berkaca pada pribadi Beliau. Sebagai umat-Nya, harus berani dan meneladani kepemimpinan Beliau, lebih-lebih saat ini pelbagai krisis multidimensi melanda belum juga beranjak dari tanah air.

Disamping itu, rasa persatuan dan persaudaraan umat kian rapuh. Umat beramai membentuk kekuatan sendiri dan berjalan sendiri pula. Ratusan partai dan organisasi ke-Islaman telah didirikan, namun bendera persatuan dan kesatuan umat ditanggalkan demi segenggam kekuasaan. Umat Islam di tingkat bawah mengalami krisis keteladanan.

Kewajiban

Seseorang ketika ditunjuk sebagai pemimpin atau pejabat, maka pada waktu itu pulalah hakekatnya ia menerima suatu amanah yang harus ia pelihara dan tunaikan. Karena pada prinsipnya, pemimpin atau pejabat yang dipilih adalah untuk mengurusi urusan-urusan rakyat atau masyarakat yang memilihnya. Dan itulah amanah yang wajib ia tunaikan. Sebaliknya, ketika terpilih sebagai pemimpin, maka rakyat wajib menyerahkan urusan kenegaraan atau pemerintahan kepada si pemimpin tersebut. Rakyat harus mendukungnya, memberikan saran dan kritik yang positif. Dalam sejarah Islam pemimpin memiliki kewajiban-kewajiban pokok yang menjadi hak dari rakyat yang memilihnya.

Pertama, memelihara hak beragama warga negara, yakni harus memberikan rasa aman, kemudahan dan kebebasan kepada setiap warga negara untuk menjalankan ajaran-ajaran agamanya. Demikian pula, harus menjaga warga negaranya dari ajaran-ajaran atau pendapat-pendapat yang menyimpang dan menyesatkan. Kedua, menegakkan keadilan dalam segala bidang, khususnya dalam bidang hukum. Berbuat adil diantara rakyatnya, misalnya menyelesaikan kasus perselisihan antara dua orang atau lebih. Ia harus dapat mengambil dan memberikan sesuatu yang menjadi hak dari orang lain atau kelompok yang telah diambil oleh orang atau kelompok yang kuat. Demikian pula ketika berbuat dan menetapkan suatu kebijakan tersebut harus mencerminkan rasa keadilan, tidak merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain.

Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan; “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran, yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS 4:58).

Ketiga, siap menerima pengaduan, kritik, saran dan bersedia melakukan dialog dengan segala lapisan masyarakat. Kewajiban ini sebagai akibat logis dari keharusan pemimpin untuk berbuat adil, didukung oleh rakyatnya. Bagaimanapun, pemimpin adalah manusia, sehingga ia tidak akan lepas dari keterbatasan kemampuan dan pikiran atau ilmu. Saran, kritik dan dialog itulah yang akan menyempurnakan dan memperluas wawasan si pemimpin ketika menetapkan suatu kebijakan.

Suatu kebijakan rasanya sulit berjalan dengan baik, tanpa dukungan dari rakyat. Bisa dibilang, lebih banyak gagalnya. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW yang berbunyi; “Sampaikanlah (laporkanlah) kepadaku (wahai para sahabat) pengaduan, saran dan kritikan dari orang yang tidak mampu menyampaikan langsung kepadaku. Sesungguhnya orang yang menyampaikan kepada penguasa pengaduan dari sesorang yang tidak mampu menyampaikannya secara langsung, kedua kakinya akan ditetapkan (dimantapkan) oleh Allah SWT di atas shirat pada hari di mana kaki-kaki manusia tergelincir”.

Keempat, menjaga kedaulatan negara dan memberikan perlidnungan dan rasa aman kepada masyarakat dalam kehidupan sosial. Kelima, memberikan fasilitas dan sarana untuk memudahkan warga negara melakukan kegiatan dan aktivitas sehari-hari, mendistribusikan hasil kekayaan alam dan hasil ekonomi secara merata kepada seluruh warga negara. Semua dilakukan, agar akyat  bisa hidup makmur.

Dalam ajaran Islam, pertanggung jawaban tidak hanya di depan rakyat yang memilihnya, tetapi juga di depan Allah SWT di akhirat kelak. Karena itu, seseorang pemimpin harus sungguh-sungguh menunaikan amanah yang diberikan kepadanya. Rasulullah SAW mengatakan, pemimpin yang mengabaikan atau menghianati rakytanya, maka surga diharamkan baginya. Auzhubillah min dzalik. 

 

Leave a Comment