breaking news New

Ramadhan Sebagai Ibadah Sosial

Selama sebulan, kita kaum Muslimin diliputi oleh keberkahan bulan Ramadhan. Kedatangan bulan yang penuh berkah itu, sudah seharusnya kita sambut dengan mengucapkan “Ramadhan ya Ramadhan”. Hal ini sebagaimana disabdakan Nabi Muhamad SAW. “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan, maka “selamat datanglah kepadanya”. Telah datang bulan puasa membawa segala rupa keberkatan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu”. (Hadis diriwayatkan oleh  Ath Thabrani).

Pada suatu hari di akhir bulan Sya’ban, dihadapan para sahabatnya Nabi Muhammad SAW menyampaikan pidato, antara lain sebagai berikut : “Wahai manusia ! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang agung lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan itu dimana Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban dan qiyam atau shalat di malam harinya sebagai ibadah sunah”.

Lalu Nabi Muhammad SAW melanjutkan sabdanya, “Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan pekerjaan kebajikan samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu (ibadah wajib) di bulan lain. Dan siapa saja yang menunaikan ibadah wajib di bulan tersebut, samalah dia dengan orang yang menunaikan tujuh puluh ibadah wajib di bulan yang lain”.

Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedang kesabaran itu balasannya surga. Ramadhan adalah bulan muwaasat, bulan yang memberi pertolongan dan bulan di mana rezeki orang-orang mukmin ditambahkan. Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka bagi orang-orang yang berpuasa dalam bulan Ramadhan, maka yang demikian itu adalah sebagai pengampunan bagi dosa-dosanya dan kemerdekaan bagi dirinya dari siksa neraka. Dan orang yang memberi makanan itu, memperoleh pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa (yang diberikan makanan), tanpa sedikitpun berkurang”.

Ibadah Sosial

Manusia pada dasarnya hidup dalam dua dimensi, yaitu dimensi individual dan dimensi sosial. Kedua dimensi kehidupan ini saling mempengaruhi dan menentukan hakikat kebahagiaan. Status perorangan (individu) yang baik tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang tanpa disertai oleh kondisi sosial yang harmonis. Demikian pula kehidupan sosial yang baik, tidak menjamin kebahagiaan yng utuh bila kondisi individu tidak sehat.

Orang yang berbadan sehat, hartanya cukup, tidak mesti bahagia bila masyarakat sakit. Misalnya banyak criminal, penuh intrik dan teror. Demikian pula kondisi masyarakat yang baik, harmonis, demikratis, juga tidak menjamin kebahagian seseorang bila tubuhnya dalam keadaan sakit-sakit. Dipandang dari sudut ini, jelas kiranya kita dituntut untuk merawat kesejahteraan pribadi dan merawat masyarakat kita sekaligus. Itulah sebabnya secara pribadi dinyatakan bahwa di antara tugas khalifah itu ialah menciptakan kemakmuran di bumi.

Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Al Qur’an : “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata : “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Di telah menciptakankamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurannya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudia bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa) hamba-hamba-Nya”. (QS Huud (11) : 61)

Satu kenyataan kita hadapi, bahwa tidak semua orang menikmati kemerdekaan rezeki dan sarana pemilikan. Hal itu bersumber dari ketetapan-Nya sebagai ujian, baik bagi kaum kuat maupun kaum yang lemah. Firman Allah SWT : “Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagiaan kamu atas sebahagiaan yang lain beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya kepadamu dan sesungguh-Nya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al A’am (6) : 166)

Tetapi Islam tidak menyukai hak tanpa batas kepemilikan, karena semua kekayaan adalah milik Allah. Kepemilikan merupakan amanat yang mengandung tanggung jawab untuk ditunaikan. Karena itu, tindakan-tindakan bersama dalam wujud kesetiakawanan sosial harus dilakukan guna meningkatkan kesejahteraan dan mencegah kesenjangan masyarakat. Tindakan itu, antara lain bisa secara konvensional dengan membantu yatim piatu, fakir miskin dan mereka yang sedang terkena musibah melalui zakat, infaq dan shadaqah. Tetapi yang lebih tersistem adalah dengan mengakhiri kesenjangan sosial, melindungi kepentingan ekonomi pihak yang lemah, pemerataan distribusi kekayaan dan lain-lain.

Dalam bulan puasa kali ini, kita diajak untuk merasakan penderitaan kaum yang lapar agar kita lebih intens dalam memikirkan nasib kalangan masyarakat yang lapar sepanjang tahun. Semoga dengan pelbagai bentuk amaliah ibadah Ramadhan, kita semua menjadi taqwa dan dapat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dimurkai Tuhan. Bisa menghindari perbuatan-perbiuatan yang mengakibatkan (memberi mudharat) kepada diri serta mampu menjauhkan perbuatan-perbuatan yang merusak dan merugikan orang lain. Semoga.

Leave a Comment