breaking news New

Empat Jalan dan Beasiswa Bagi Putra-Putri Balangan

Ada 4 jalan yang biasa dilewati oleh lulusan SLTA. Beasiswa hanya membantu salah satunya.

Bulan Mei adalah bulan yang istimewa bagi sekolah-sekolah di Balangan, terutama tingkat SMA/sederajat. Pada bulan itu, mereka selalu membuat kemeriahan yang sangat dinanti-nantikan. Apapun nama kegiatan kemeriahan itu, pada intinya tetaplah sama: perpisahan siswa-siswi tingkat akhir yang baru saja menyelesaikan ujian nasional.

Lulus? Nanti dulu. Yang penting ikut bergembira dalam “pesta” perpisahan dulu.

Namun, kemeriahan yang seolah-olah melupakan segalanya itu selalu dibayang-bayangi pertanyaan besar bagi setiap siswa/siswi. Tidak lain tidak bukan, pertanyaan itu selalu sama setiap tahunnya: hendak ke mana setelah ini?

Dalam acara pengukuhan lulusan SMKPPN Paringin bulan Mei tadi, Bupati Balangan Ansharuddin, mengungkapkan tiga kemungkinan jawaban yang selalu muncul dari tahun ke tahun, setiap kali pertanyaan tersebut diajukan. Ketiganya adalah kuliah, mencari kerja, menikah.

Bupati yang akrab dipanggil Anshar itu secara blak-blakan menyatakan harapannya agar para lulusan sekolah menengah melanjutkan pendidikan ke bangku perguruan tinggi atau lembaga-lembaga pelatihan ketrampilan, atau minimal mencari kerja jika memang terpaksa tidak bisa kuliah dan tidak menemukan lembaga yang bisa mendukung pengembangan ketrampilan yang diminatinya. Sekaligus, ia secara blak-blakan pula menyatakan ketidaksetujuannya bila para remaja itu lekas-lekas menikah selepas lulus sekolah.

“Saya mendukung yang pertama dan kedua (kuliah dan mencari kerja—red.) dan tidak menyarankan kalian segera menikah, terutama karena alasan kematanagn pribadi yang masih harus ditempa lagi,” ucap Anshar ketika memberi sambutan pada acara pengukuhan lulusan di sekolah kejuruan tertua di Balangan itu.

“Saya mengimbau kepada anak-anakku semua, berusahalah agar sebisa mungkin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” demikian Anshar berpesan. “Pilihlah baik-baik jurusan yang sesuai dengan minat dan ketertarikan kalian, sehingga kalian akan selalu senang dan bersemangat mempelajarinya. Dengan menuntut ilmu di perguruan tinggi, kalian bukan hanya menyerap ilmu dan pengetahuan, tetapi juga memperluas wawasan dan belajar hidup mandiri.”

Bupati Balangan ini memang menomorsatukan kualitas sumber daya manusia. Semenjak masa kampanye pencalonannya tahun lalu—berpasangan dengan H. Syaifullah—visi yang ia tawarkan memang secara langsung menyebutkan kualitas sumber daya manusia sebagai jalur utama mencapai cita-cita, yaitu: terwujudnya kabupaten Balangan yang maju dan sejahtera melalui pembangunan sumber daya manusia. Prioritas itu semakin terasa dengan ditetapkannya misi-misi guna mewujudkan visi tersebut, dimana misi pertama secara terang-terangan menyebutkan pendidikan sebagai salah satu sasaran pembangunan, yaitu dengan kalimat meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan pendidikan dan kesehatan.

Tidak heran jika kebijakan-kebijakan Anshar selalu mengarah pada bidang pendidikan, termasuk di antaranya pembentukan karakter positif yang kuat pada generasi muda. Tidak mengherankan, karena generasi muda itulah penentu masa depan bangsa maupun daerah.

Menurut Anshar, untuk menghadapi masa depan, yang diperlukan adalah ilmu, ketrampilan dan karakter positif yang tertanam kuat dalam diri. Ketiga hal inilah yang ia harapkan selalu dicari oleh anak-anak muda Balangan, di manapun mereka berada.

Ilmu memang tidak hanya di sekolah dan bangku kuliah. Ilmu juga bisa diperoleh dari pengalaman. Ilmu yang sudah dipelajari di bangku sekolah hingga tingkat sekolah menengah mungkin memang belum cukup tinggi, tetapi bisa diterapkan. Terutama, bagi mereka yang mengenyam pendidikan di sekolah menengah kejuruan.

Anshar berharap, kalaupun karena berbagai kendala anak tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mereka dapat mencari pengalaman untuk menempa diri sekaligus mempraktekkan ilmu yang sudah didapat dari bangku sekolah. Dengan demikian, ilmunya akan berkembang dan semakin terasa untuk dapat diterapkan di lapangan kerja maupun untuk berwirausaha.

Terkait ketidaksetujuannya bila anak menikah segera setelah lulus sekolah, Anshar menyampaikan alasannya bukan hanya agar usia produktifnya bermanfaat secara optimal, namun juga karena alasan psikologis. Data statistik menunjukkan banyaknya pasangan bercerai banyak yang berlatar belakang pernikahan pada usia di bawah 20 tahun. Bisa dipahami, karena pada usia itu biasanya orang belum benar-benar dewasa sehingga kemampuan menghadapi permasalahan juga kurang. Dampaknya, permasalahan dalam rumah tangga pasangan usia sangat muda itu banyak yang tidak diselesaikan, lantas berakhir dengan perceraian. Celakanya, perceraian itu juga menimbulkan tidak sedikit permasalahan baru, seperti masalah ekonomi, pendidikan bagi anak yang umumnya masih berusia dini, dan sebagainya.

Ketika lulus sekolah  menengah, para remaja itu biasanya berusia akhir belasan. Pada usia itu, menurut Anshar, kematangan pribadi masih harus ditempa lagi. Menempanya bisa dengan cara melanjutkan pendidikan maupun mencari pengalaman kerja, karena kondisi menempuh pendidikan—terutama di luar daerah—maupun kondisi bekerja itulah yang akan mengajarkan banyak hal kepada para pelakunya, sekaligus membentuk pribadi yang lebih kuat.

Untuk mendorong minat belajar ke perguruan tinggi, Pemkab Balangan memberi berbagai fasilitas kepada para mahasiswa maupun calon-calon mahasiswanya. Misalnya, pemkab Balangan menyediakan asrama mahasiswa di beberapa kota tujuan belajar yang paling banyak diminati, seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Malang (Jatim) dan Yogyakarta. Pada periode kepemimpinan Ansharuddin di Balangan, pihaknya berencana membangun sebuah lagi asrama mahasiswa di Banjarmasin. Hal itu guna menjawab permintaan para mahasiswa agar di ibukota provinsi itu ada asrama untuk putra maupun putri—karena selama ini hanya ada satu asrama yang diperuntukkan untuk putra.

Pemkab Balangan juga menyediakan dan mengupayakan beasiswa untuk putra-putri terbaiknya. Pemkab tidak sendirian menyediakan dana beasiswa itu, melainkan juga bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Balangan. Beasiswa itu diberikan sebagai dana CSR (Corporate Sosial Responsibility) perusahaan.

***

Di luar harapan bupati, ternyata pada kenyataannya yang terjadi bukan hanya ketiga kemungkinan tersebut, melainkan ada pula yang keempat: para lulusan sekolah menengah menjadi pengangguran. Biasanya karena belum mendapatkan pekerjaan atau belum berani mencoba berwirausaha.

Hal ini akan menjadi permasalahan tersendiri bagi daerah. Bagaimanapun, lulusan sekolah yang menganggur ini selalu menjadi sumbangsih terhadap bertambahnya angka pengangguran. Angka pengangguran selalu berarti tidak produktifnya sebagian masyarakat di suatu daerah, di mana sebagaian masyarakat itu seharusnya bisa menghasilkan secara ekonomi mengingat usianya yang masih produktif.

***

Mengenai beasiswa sebagai salah satu sarana pendorong minat putra-putri Banua Sanggam untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tahun ini pemkab memberikan beasiswa ‘jenis’ baru, yaitu beasiswa bagi para lulusan yang meraih rangking 1 sampai 3 di tiap-tiap sekolah. Beasiswa tersebut merupakan realisasi dari janji kampanye pasangan Ansharuddin – Syaifullah tahun lalu. Sekaligus, hal tersebut mempertegas komitmen pasangan bupati – wakil bupati Balangan ini terhadap pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendidikan. “Pemberian beasiswa ini merupakan wujud implementasi visi dan  misi kami, yakni untuk memajukan sumber daya manusia guna menciptakan Balangan yang maju dan mandiri,” ucap Anshar.

Rancangan peraturan bupati tentang pedoman pemberian beasiswa telah disosialisasikan kepada siswa-siswi peraih ranking 1, 2 dan 3 di masing-masing sekolah, didampingi para orangtua dan guru. Sosialisasi yang dilaksanakan di Aula Benteng Tundakan itu dihadiri juga oleh Bupati Anshar. Dalam rancangan tersebut disebutkan 10 sasaran atau penerima beasiswa, di antaranya juara lomba IPTEK, mahasiswa berprestasi akademik dan mahasiswa kedokteran.

Dalam rancangan peraturan tersebut, mekanisme penyaluran beasiswa adalah melalui rekening pribadi mahasiswa penerima beasiswa.

“Saya harap bantuan beasiswa nanti tepat sasaran dan dipergunakan sebagaimana mestinya, karena tujuan kita untuk membangun Balangan dengan SDM yang profesional, agar Balangan bisa bersaing dengan kabupaten lain,” ungkap Anshar.

Khusus beasiswa bagi lulusan SMA/MA/SMK yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, memang diberlakukan persyaratan yang mengharuskan penerima benar-benar serius menempuh pendidikannya. Syarat itu dimulai dari pemilihan perguruan tinggi, yaitu harus perguruan tinggi negeri terakreditasi dengan nilai minimal B, atau perguruan tinggi swasta yang sudah terdaftar di lembaga Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (kopertis). Ini adalah syarat untuk mendapatkan beasiswa semester I.

Syarat berlanjut untuk semester II, yaitu harus meraih Indeks Prestasi (IP) minimal 2,75. Selanjutnya, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 adalah syarat untuk mendapatkan beasiswa di semester III dan seterusnya, hingga total 8 semester (empat tahun). Artinya, penerima beasiswa tidak serta-merta dinyatakan sebagai penerima selama 8 semester berturut-turut. Beasiswa dapat dihentikan sewaktu-waktu bila si penerima tidak lagi memenuhi persyaratan untuk pembayaran beasiswa semester berikutnya.

Mekanisme menjaga agar si penerima terus berusaha mempertahankan prestasi dan kualitas pembelajarannya. Lagipula, syarat-syarat terkait prestasi akademik dan IPK itu hanya sebagian saja.

Syarat-syarat lain—atau lebih tepatnya syarat diberhentikannya pemberian beasiswa—lebih terkait dengan upaya para mahasiswa itu dalam menjaga karakter moral masing-masing. Misalnya, bila mahasiswa penerima beasiswa terbukti melakukan tindak pidana atau perbuatan kejahatan, terlibat dalam pengedaran dan/atau penyalahgunaan narkotika, zat adiktif maupun obat-obatan terlarang lainnya, maka pemberian beasiswanya juga dipastikan akan dihentikan.

Kepala Dinas Pendidikan, Eddy Yulianto, juga menjelaskan bahwa seorang mahasiswa penerima beasiswa dari pemkab tidak boleh menerima beasiswa lain yang serupa. “Dalam aturan juga tidak diperbolehkan siswa menerima beasiswa sejenis dari lembaga atau donatur lain. Ini juga bisa menjadi dasar penghentian bantuan beasiswa mereka,” paparnya.

Sejak menjelang akhir tahun ajaran 2015/2016, pihak dinas pendidikan melakukan pendataan terhadap siswa-siswi berprestasi di seluruh kecamatan, serta terhadap mahasiswa asal Balangan yang berprestasi di bidang akademik.

Dana untuk pemberian beasiswa “baru” sebagai implementasi janji kampanye bupati – wakil bupati terpilih dianggarkan dalam APBD Perubahan tahun ini, sehingga diharapkan sudah dapat direalisasikan untuk tahun pelajaran dan tahun akademik 2016/2017. ***

Leave a Comment