breaking news New

Membangun Masyarakat Sadar Pustaka

Budaya baca tampak seolah terkikis oleh dampak teknologi informasi. Padahal prestasi banyak tersedia di sana untuk diraih.

Anak-anak dan remaja sekarang mungkin tidak begitu akrab dengan nama-nama Kak Bimo atau Hans Christian Anderssen. Telinga mereka lebih akrab dengan nama JK. Rowling, atau lebih tepatnya Harry Potter. Itupun, mereka mengenalnya sebagai penulis novel yang diangkat ke layar lebar dan tokoh dalam film-film tersebut. Tidak banyak dari mereka yang mengetahui bahwa semua itu berasal dari aktivitas bercertita, atau mendongeng.

Ya, adalah JK Rowling, seorang ibu rumah tangga yang suka membacakan dongeng-dongeng ketika mengantar anak-anaknya tidur malam. Suatu hari, ketika ia mulai kehabisan buku dongeng untuk dibacakan, ia mulai mengarang-ngarang cerita. Ia mulai membuat dongeng versinya sendiri, dongeng yang hanya diceritakan kepada anak-anaknya menjelang tidur malam. Tokoh utama dalam dongeng rekaan ibu itu dinamainya Harry Potter.

Anak-anaknya sangat tertarik dengan dongeng-dongeng yang diceritakan oleh sang ibu. Sepotong demi sepotong cerita mereka nanti-nantikan setiap menjelang tidur malam. Hingga timbul permintaan mereka kepada sang ibu untuk mengumpulkan potongan-potongan cerita itu menjadi satu-kesatuan cerita. Sang ibu menurutinya. Potongan-potongan cerita itu dituliskannya.

Tak disangka-sangka, ada penerbit yang tertarik. Lebih tak disangka-sangka lagi, ternyata respon pasar terhadap buku itu luar biasa. Novel Harry Potter menjadi salah satu buku dengan angka penjualan tertinggi di seluruh dunia. Permintaan untuk menulis dan menulis lagi dongeng Harry Potter terus berdatangan. Tidak cukup terbit dalam bentuk novel, dongeng itupun diangkat ke layar lebar. Melalui novel dan film pula kita mengenal tokoh Harry Potter.

 

Prestasi dari Lomba

Sebenarnya, sejak jaman dulu pun aktivitas mengarang-ngarang cerita bisa menjadi prestasi dan berbuah ketenaran—dan tentu saja menjadi sumber penghasilan. Seluruh dunia tahu kisah Romeo dan Juliet, sebuah kisah fiksi yang membuat nama pengarangnya, William Shakespears, menembus berabad-abad masa hingga kini. Sebuah prestasi yang luar biasa.

Dalam dua tahun ini, prestasi dari mendongeng itu diraih oleh remaja-remaja Balangan. Mereka menggunakan Bahasa Banjar, dengan ekspresi teatrikal di atas panggung, di hadapan khalayak penonton (dan dewan juri, tentu saja), menceritakan kisah-kisah legenda tanah leluhurnya.

Adalah Sariati (siswi SMKN 1 Batumandi), Fitria Salsabila Bukhori Muslim (siswi MTsN Batumandi) dan Rahimah (siswi SMAN 1 Juai) yang membawa pulang prestasi itu dari tingkat provinsi. Sariati meraih predikat Juara I tingkat SLTA/sederajat pada tahun 2015, sedangkan Fitria meraih Juara I di tahun 2016 untuk tingkat SMP/sederajat. Rahimah membawa pulang trofi Juara III tingkat SLTA/sederajat untuk tahun ini.

Prestasi tersebut di raih dalam gelaran bertajuk Kalimantan Selatan Bookfair, event yang dihelat oleh Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan setiap tahun sejak 2014.

(Bila dicermati, gelaran Kalimantan Selatan Bookfair memang sudah diselenggarakan sebanyak 3 kali, namun Balangan hanya dua kali mengikuti lomba-lomba yang diagendakan dalam gelaran tersebut. Hal itu dikarenakan pada gelaran pertama (tahun 2014) panitia tidak mengundang daerah-daerah untuk berpartisipasi mengikuti lomba-lomba tersebut. Saat itu, lomba hanya dipublikasikan di Banjarmasin dan sekitarnya, sehingga peserta hanya dari area situ. Berbeda dengan pada penyelenggaraan kedua dan ketiga, di mana panitia mengundang setiap daerah (kabupaten dan kota) di seluruh Kalimantan Selatan untuk mengirimkan utusan guna mengikuti berbagai macam lomba dalam rangkaian gelaran tersebut.)

Dalam gelaran 3rd Kalimantan Selatan Bookfair 2016 pada awal Agustus lalu, bukan hanya pada lomba bercerita para peserta dari Balangan meraih prestasi. Gelar Juara I juga diraih dari lomba fashion bertajuk Lomba Berbusana Muslim Sasirangan—yang merupakan salah satu agenda lomba dalam gelaran tahun ini. Aulia M, seorang siswi MTsN Layap Paringin, berhasil meraih nilai tertinggi dari para juri dan memenangi lomba tersebut setelah membawakan busana muslim bermotif sasirangan hasil rancangan seorang warga Balangan, H. Syarkawi—yang di Paringin lebih dikenal dengan nama akrab Haji Walad.

Dari gelaran yang sama, Perpustakaan Desa Kusambi Hilir juga membawa pulang predikat Juara II dari Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan se-Kalimantan Selatan. Raihan itu memperbaiki hasil yang diraih oleh Perpustakaan Desa Hamparaya pada tahun lalu pada gelaran 2nd Kalimantan Selatan Bookfair tahun lalu, yaitu sebagai Juara Harapan I.

Yang benar-benar sukses menaikkan prestasi diri adalah Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 1 Paringin—atau yang lebih dikenal dengan sebutan MAN Layap. Dua tahun berturut-turut mereka menjadi utusan Balangan untuk maju mengikuti Lomba Perpustakaan Sekolah Tingkat SMA/Sederajat yang merupakan salah satu agenda dari Kalimantan Selatan Bookfair. Tahun lalu mereka meraih predikat Juara Harapan I, dan tahun ini mereka memperbaiki prestasinya dengan menapak setingkat lebih tinggi, menjadi Juara III pada lomba yang sama.

Tidak ketinggalan, salah satu personil dari Kantor Perpustakaan, Dokumen dan Arsip Daerah (KPDAD) Kabupaten Balangan, yaitu Ansari Asthami, juga turut menambah daftar prestasi Bumi Sanggam setelah berhasil mendapatkan predikat Juara Harapan III untuk Lomba Pustakawan Berprestasi se-Kalimantan Selatan, yang juga merupakan salah satu agenda dalam gelaran bookfair tersebut.

Raihan prestasi itu bukan hanya menandakan kemenangan atau keunggulan tertentu yang dimiliki oleh Bumi Sanggam. Lebih dari itu, gambaran yang lebih luasnya adalah bahwa potensi putra-putri Balangan tidak kalah dibanding yang dimiliki oleh daerah-daerah lain, bahkan dibanding daerah yang lebih maju sekalipun.

Namun juga, sangat jarang raihan-raihan prestasi hanya mengandalkan bakat. Semua itu tentu bukan tanpa perjuangan. Dibutuhkan penanganan yang baik, tepat dan arif untuk dapat mengolah, mengelola dan memadukan berbagai potensi untuk bisa menjadi prestasi. Artinya, banyak komponen yang harus dikembangkan, dikelola, diselaraskan satu sama lain, dipadu-padankan, untuk mewujudkan kata-kata bijak yang sering kita dengar: bersama-sama, setiap orang bisa meraih hal yang lebih besar.

KPDAD memang berinisiatif memotori gerak dunia pustaka (literasi) di tanah Balangan. Tetapi mereka bukan satu-satunya komponen yang mendorong dunia pustaka itu agar bergerak. Para seniman di Bumi Sanggam—di antaranya Syarkawi, Husien, Rahmiati (Ami), M. Fuad Ridho, Imam Bukhori, para penggiat Sanggar Kariwaya, dan lain-lain—tidak hanya mendukung, tetapi juga sering kali terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan berkesenian maupun yang lebih khusus berbau kesusastraan. Mereka sangat terbuka untuk diajak berkolaborasi dengan sekolah-sekolah, instansi pemerintah, kelompok-kelompok masyarakat, bersama-sama mencari bibit-bibit bakat, kemudian mengasah temuan-temuan itu hingga berkilau. Bisa dibilang, prestasi pada ajang-ajang lomba adalah sebagian kecil dari wujud kilauan itu.

Keberadaan dan kesediaan para seniman itulah yang membantu sekolah-sekolah membuka ekstrakurikuler kesenian. Di satu sisi, Balangan memang belum memiliki fasilitas umum untuk kegiatan-kegiatan kesenian. Namun di sisi lain, ternyata para seniman tetap eksis. Anda boleh menyebut mereka menggunakan cara gerilya. Tetapi tidak keliru juga bila kita menggunakan istilah “turun langsung” atau “berpartisipasi aktif” untuk menyebut kiprah mereka dalam dunia kesenian Balangan.

Bukan hanya memajukan kesenian, tetapi—bila melihat kelompok target yang mereka bina adalah para pelajar—mereka menanamkan kesenian kepada generasi penerus, kepada tunas-tunas muda yang sekiranya akan tetap berkesenian setelah era seniman-seniman generasi sekarang. Para seniman itu rupanya tidak sekadar memajukan dunia mereka, tetapi sekaligus mengupayakan agar dunia mereka tetap lestari dan lebih maju di masa-masa setelah mereka berisitirahat kelak.

Lomba Sebagai Perangsang

Lomba bukan semata-mata beradu kreativitas dan kemampuan. Yang masih menjadi nilai penting pada saat ini adalah, bahwa mengikuti lomba adalah sebuah gengsi tersendiri. Membawa pulang bukti prestasi—berupa trofi, piagam dan sebagainya—adalah sebuah kebanggaan bagi diri dan keluarga.

Nilai-nilai inilah yang dimanfaatkan oleh KPDAD—dan biasanya juga oleh instansi-instansi pemerintahan—untuk memotivasi masyarakat, baik secara kelompok maupun orang perorangan—untuk berbenah, mengasah kemampuan, mengembangkan kreativitas.

Untuk mengembangkan kreativitas dan meningkatkan kemampuan, salah satu cara yang sangat baik untuk ditempuh adalah melalui membaca. Teknologi informatika saat ini mampu membawakan berbagai informasi dan bacaan kepada setiap orang di mana saja. Sementara perpustakaan maupun sumber-sumber bacaan dengan media konvensional (fisik) terus-menerus berupaya menarik minat pengunjung.

Inilah perlunya lomba-lomba itu. Mereka yang ingin menang—dan siapa yang tidak ingin menang?—harus membaca, harus membiasakan diri belajar menyerap berbagai informasi dari bahan bacaan—baik virtual maupun fisik.

Itu pula sebabnya pihak KPDAD aktif mencari info mengenai lomba-lomba yang terkait dengan dunia kepustakaan di tingkat provinsi maupun yang lebih tinggi—untuk diikuti bila memungkinkan. Ansari Asthami mengatakan, bahwa tujuan instansinya mengikutsertakan putra-putri Balangan adalah untuk meningkatkan dan mempromosikan minat baca. “Karena mereka memang harus membaca agar memiliki kemampuan yang lebih baik untuk bisa ikut lomba.”

Untuk menyeleksi siapa yang layak untuk mewakili Balangan ke lomba-lomba di luar daerah, misalnya ke ajang Kalimantan Selatan Bookfair, maka diselenggarakanlahh lomba serupa terlebih dahulu di sekolah-sekolah, secara berjenjang hingga ke tingkat kabupaten. “Salah satu jalur yang kami bangun ya Balangan Membudaya itu,” ungkap Ansari.

 

“Balangan Membudaya”

Event yang disebutkan oleh Ansari adalah gelaran berbagai jenis lomba yang terkait dengan dunia pustaka, yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan hari jadi Kabupaten Balangan beberapa bulan lalu.

Ya, gagasan awalnya memang dari KPDAD, sekadar untuk ikut memeriahkan hari jadi daerah otonom hasil pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara itu. Hanya dari sebuah keinginan untuk menyelenggarakan pameran buku. Dari situ gagasan berkembang: bagaimana kalau bersamaan dengan pameran ini juga digelar lomba-lomba? Bermunculanlah usulan-usulan. Lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba baca puisi, lomba majalah dinding dan lain-lain. Pada kenyataannya, usulan jenis lomba jauh lebih banyak—dan tentu saja, hanya sebagian saja yang bisa direalisasikan. Bagaimanapun, karena banyaknya agenda lomba itulah, maka pameran buku pun akhirnya menjadi salah satu agenda pula setelah diputuskan bahwa event-nya diubah namanya menjadi “Balangan Membudaya”.

Tidak heran, penyelenggara, para peserta dan banyak pihak lain yang menghendaki agar event Balangan Membudaya dapat diselenggarakan secara rutin. Bahkan, beberapa gagasan mengenai penambahan agenda juga sudah banyak dibahas dan ditindaklanjuti. KPDAD merencanakan akan menyelenggarakan lagi event tersebut, tetap untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Balangan.

Bahkan, Kepala KPDAD, Ubaidillah, mengungkapkan angan-angannya agar Balangan Membudaya bisa menjadi semacam induk kegiatan peringatan hari jadi Balangan. “Selama ini kan tiap-tiap SKPD menyelenggarakan sendiri-sendiri. Nah, alangkah baiknya bila semua itu disatukan dalam satu wadah, ada panitia yang terdiri dari lintas-sektor lintas-unsur, bersama-sama menyelenggarakan peringatan hari jadi Balangan,” demikian paparnya.

Namun, kembali ke tujuan semula, bahwa Balangan Membudaya adalah sebuah upaya yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan minat baca masyarakat—dengan strategi penyediaan atau penyelenggaraan berbagai macam lomba yang merangsang minat baca.

Selain itu, event yang direncanakan akan dihelat setiap tahun itu juga bertujuan untuk membangun jaringan koordinasi antara pihak-pihak yang berkaitan dengan upaya pembangunan literasi. KPDAD ingin menjadikan lembaga-lembaga, kelompok-kelompok maupun orang perorangan yang peduli pada budaya literasi dan minat baca sebagai mitra lokal. Dengan kemitraan itulah nantinya diharapkan dapat diperoleh percepatan dalam membangun minat baca dan budaya literasi—atau dengan kata lain: membangun masyarakat sadar pustaka—di Kabupaten Balangan.

Semoga pada hari jadi ke-14 Kabupaten Balangan tahun depan kita bisa menjadi saksi keberhasilan Balangan Membudaya, dan yang lebih penting: melihat perkembangan minat baca dan budaya literasi yang sesungguhnya pada masyarakat Balangan. *****

Leave a Comment