breaking news New

Kemeriahan Adalah Bagian Penting dari Kesuksesan

Dalam setiap event yang dinikmati oleh massa, seberapa kuatnya nuansa event dirasakan oleh massa, itulah kadar kesuksesan dari sudut pandang orang luar.

Pertengahan September lalu ada yang sangat berbeda di kota Paringin. Kemeriahan terasa dan terlihat di seluruh penjuru kota. Siang ada berbagai umbul-umbul, spanduk, gapura-gapura mini, berbagai bentuk hiasan, dan bendera merah-putih. Ya, bendera merah-putih yang sebulan sebelumnya menghias kota untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan, ternyata kembali digunakan untuk kembali menciptakan suasana kemeriahan.

Pada malam hari, suasana yang sangat berbeda dibanding biasanya semakin jelas terlihat. Lampu hias berbagai warna bertabur di mana-mana. Setiap rumah warga seakan berlomba menarik perhatian siapa saja dengan cahaya berbagai warna lampu. Ratusan lampion aneka warna hasil kreasi mereka pun tampil mempesona—walaupun terbuat dari berbagai bahan bekas seperti botol bekas kemasan air minum berbagai ukuran (bahkan yang terbuat dari botol bekas ukuran 19 liter pun ada), bekas botol oli, bahkan tidak sedikit yang terbuat dari bekas peralatan dapur.

Sedikit menengok ke belakang, tepatnya sebulan sebelumnya ketika kemeriahan menghiasi suasana peringatan hari kemerdekaan, kemeriahan pada pertengahan bulan September itu sangat terasa lebih. Ya, tahun ini kota Paringin lebih meriah pada pertengahan bulan September daripada ketika pertengahan Agustus.

Adalah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional Ke-sepuluh (MTQN X) Tingkat Kabupaten Balangan yang mendasari segala bentuk kemeriahan kota Paringin pada bulan September itu. Kecamatan Paringin yang mendapat giliran untuk menjadi tuan rumah event tersebut benar-benar membuat ibukota Bumi Sanggam itu berwarna MTQ.

Ketua panitia penyelenggara, yang juga adalah Camat Paringin, Agus Muslim, mengungkapkan bahwa pihaknya memang mengimbau warga masyarakat Kecamatan Paringin berpartisipasi memasang bendera merah-putih dan membuat hiasan di halaman atau depan rumah masing-masing. Selain sebagai bentuk partisipasi, juga sebagai ucapan selamat datang dan selamat bermusabaqah kepada seluruh kontingen yang datang dari seluruh penjuru Kabupaten Balangan.

Imbauan itu tidak lain adalah salah satu cara untuk mempertahankan kemeriahan penyelenggaraan MTQ X, agar kemeriahan itu tidak hanya berlangsung di lokasi-lokasi lomba , dan tidak hanya saat lomba berlangsung. “Itu satu cara memeriahkan MTQ. Jadi, kemeriahan tetap terasa saat malam,” ungkap Agus Muslim.

Empat belas desa dan kelurahan di kecamatan itu menyambut positif imbauan Sang Camat. Kerlap-kerlip dan warna-warni lampu hias itu adalah jawabannya, selain terungkap oleh salah seorang warga Kelurahan Paringin Kota, “Ini demi memeriahkan MTQ. Sebagai warga, kami ikut berpartisipasi dengan cara memasang lampu hias.”

Tentu saja bukan hanya itu partisipasi warga Paringin. Beberapa dari mereka juga menyediakan rumahnya dijadikan sebagai tempat pemondokan kafilah. Juga, partisipasi itu bukan hanya dari pribadi-pribadi, melainkan juga ada yang diberikan secara kolektif. Misalnya, bergotong-royong bersih-bersih dan menghias kampung.

Pusat kemeriahan MTQN X yang dihelat pada 22 – 24 September 2016 ini tentu saja berada di lokasi panggung utamanya. Bertempat di Lapangan Martasura, panggung berbentuk masjid dengan 10 menara itu selesai dibangun sehari sebelum pembukaan event.

Dibuka oleh Bupati Balangan H. Ansharuddin, acara pembukaan MTQN X berhasil menyedot warga ke Lapangan Martasura dengan antusiasme. Berbagai sajian pertunjukan menghibur warga yang memenuhi lapangan yang merupakan ruang terbuka hijau kota itu. Kami sore itu (22/9) penampilan tarian massal, paduan suara, beberapa grup drum band dan pawai ta’aruf oleh para kontingen benar-benar melawan muramnya langit Paringin sore itu. Perlawanan berhasil: hujan tidak turun sampai acara pembukaan selesai.

Malam harinya, beberapa band menghibur pengunjung dengan lagu-lagu bernuansa islami di panggung utama. Sementara di lokasi lain berlangsung babak penyisihan pada cabang tilawah dewasa. Cahaya dari deretan lampu LED tampak membingkai—sekaligus memberi bentuk—panggung utama semakin menambah semarak suasana malam; semarak yang menyejukkan.

Kerja Keras

Kinerja panitia memang pantas menuai pujian. Seminggu sebelum pembukaan, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Kabupaten Balangan melalui sekretarisnya, Abdurrahman, S.Ag., memberi apresiasi positif kepada panitia. Yang membanggakan, apresiasi tersebut diberikan secara terang-terangan di hadapan perwakilan officials kafilah, seluruh panitia dan tim kerja dalam sebuah kesempatan technical meeting yang digelar di aula kantor Kecamatan Paringin.

Melihat persiapan dan penyelenggaraan MTQN X ini, serasa melihat kerja keras panitia penyelenggara mewujudkan motto mereka, yakni: Jujur, Berkualitas, Berprestasi. Semoga event ini mampu menghasilkan output sesuai keinginan yang tertuang dalam tema penyelenggaraan: “Melalui MTQ Kita Wujudkan Generasi Qur'ani yang Berakhlak Mulia dan Berprestasi.

Di sisi lain, panitia juga merasa sangat terbantu oleh banyak pihak, tak terkecuali masyarakat. Dalam acara pembukaan MTQN X yang dihadiri oleh Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Dandim, Sekretaris Daerah, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Balangan, Ketua Umum LPTQ dan sejumlah pejabat maupun undangan lainnya sore itu, Agus Muslim mewakili seluruh panitia secara terbuka menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati dan Pemkab Balangan, serta pihak-pihak lain. “Terima kasih kepada Bapak Bupati dan Pemerintah Kabupaten Balangan yang telah memberikan fasilitas dan pendanaan sehingga kegiatan MTQN ini dapat kami laksanakan. Kami juga berterima kasih kepada warga Balangan, khususnya warga Paringin, atas partisipasinya memasang bendera, umbul-umbul maupun lampu hias sehingga kota Paringin semarak dan menjadikan motivasi bagi warga untuk menyukseskan MTQ di Kecamatan Paringin,” ungkapnya ketika berkesempatan berdiri di podium di panggung utama sore itu.

Ya, panitia penyelenggara MTQN X memang tidak bisa bekerja biasa-biasa saja. Mereka harus menjamu dan mengakomodasi sekitar 400 kafilah dari 8 kecamatan, menyiapkan setidaknya 6 lokasi untuk pelaksanaan musabaqah—yang meliputi 9 cabang dengan total 39 nomor lomba. Kesembilan cabang itu adalah tilawah, tartil Qur'an, tahfiz Qur'an, tafsir Qur'an, khatil Qur'an, musabaqah makalah ilmiah Al-Qur'an, fahmil Qur'an, syahril Qur'an dan pawai ta’aruf.

Cabang-cabang tersebut—dengan berbagai nomornya—dilombakan di lokasi-lokasi di seputaran kota Paringin, seperti Masjid Istiqomah (Paringin Barat), Masjid Baitul Hikmah atau masjid yampi, aula SKB, gedung SDN Paringin 1, Gedung Sanggam dan Lapangan Martasura dengan panggung utama.

Para kafilah tak perlu bingung mencari tempat pemondokan dan lokasi lomba. Selain disambut oleh panitia, sebelum berangkat mereka juga telah diberi buku panduan yang memuat semua informasi mengenai tempat pemondokan, jadwal kegiatan, dan lain-lain, semua lengkap dengan denah lokasi. Mereka pun tak perlu mencari transportasi untuk menuju tempat lomba. Panitia menyediakannya.

Prestasi Dengan Potensi Sendiri

Selama ini, penyelenggaraan MTQ maupun STQ selalu menekankan untuk tidak menggunakan pemain bayaran. Semua kafilah harus benar-benar berasal dari daerah yang diwakilinya. Prinsipnya, lebih baik berada di urutan buncit dengan putra-putri sendiri daripada menang dengan pemain milik daerah lain.

Bupati Ansharuddin kembali menegaskan komitmen itu dalam sambutannya pada pembukaan MTQN X. Ia menginginkan agar pelaksanaan MTQ yang diselenggarakan secara rutin akan membuat berjalannya proses kaderisasi, regenerasi dan pembinaan, membentuk insan-insan handal berdaya saing tinggi, sehingga didapatkan peningkatan kualitas dan kemampuan pada sumber daya manusia Balangan. “Untuk itu tidak bosan-bosan saya tekankan kepada kita semua agar tetap teguh pada komitmen, bahwa semua peserta yang berlomba pada event ini adalah putra-putri Balangan. Kita jangan mengandalkan SDM dari daerah lain untuk mengangkat nama daerah kita sendiri,” tegas Ansharuddin.

Ia meminta kepada panitia dan para hakim agar memeriksa dengan seksama dan memastikan bahwa setiap peserta yang bermusabaqah adalah benar-benar orang Balangan.

Lebih spesifik, Ansharuddin menjelaskan bahwa yang dimaksud sebagai orang Balangan adalah orang yang secara administratif—dan secara emosi—dapat disebut sebagai warga Bumi Sanggam. “Saya tidak bicara mengenai suku,” tegasnya pula, “karena Balangan memiliki keragaman suku bangsa. Jadi, orang Balangan bukan hanya suku Banjar dan Dayak saja, namun ada juga suku Bugis, Jawa, Madura, Melayu dan lain-lain, bahkan Cina. Baik mereka yang lahir di Balangan maupun yang pendatang, bila sudah menjadikan Bumi Sanggam sebagai kampung halamannya, dan memenuhi syarat-syarat administrasi kependudukan, maka sudah bisa disebut—dan resmi—sebagai orang banua,” papar Sang Bupati.

Bupati juga berpesan bahwa agar penyelenggaraan MTQ juga harus menjadi bagian dari upaya memahami arti, makna dan isi kandungan Al-Qur'an untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. “Jika hal itu dapat dilaksanakan maka Al-Qur'an akan benar-benar menjadi landasan moral dalam menjalankan aktivitas kehidupan, baik sebagai individu, masyarakat maupun sebagai makhluk ciptaan Allah SWT,” ujarnya.

Dan Pemenangnya Adalah …

Tidak berlebihan untuk mengatakan pelaksanaan MTQN X sukses. Bukan hanya panitia yang merasakannya, tetapi masyarakatpun sangat merasakan kehadiran event tersebut, khususnya dalam atmosfer kota Paringin. Event yang dibuka pada Kamis sore (22/9) itupun ditutup dengan kemeriahan yang lebih semarak pada Sabtu malam (24/8), juga oleh Bupati Balangan Ansharuddin.

Bukan hanya panitia, bupati juga mengungkapkan ucapan terima kasihnya kepada masyarakat. “Terima kasih kepada panitia dan seluruh warga Balangan yang telah ikut menyukseskan pelaksanaan MTQ ini,” ungkapnya malam penutupan itu di panggung utama.

Ia juga sangat berharap agar para kafilah dan segenap umat muslim banua membudayakan syiar Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari sehingga Al-Qur'an benar-benar membumi di Balangan.

Perjuangan para kafilah dan kerja keras para juri memang diumumkan hasilnya pada malam itu. Tetapi perjuangan tidak hanya sampai di situ. Para pemenang harus lebih giat berjuang karena mereka akan menjadi duta Balangan untuk berlomba di tingkat yang lebih tinggi. Para juri juga tidak serta-merta lepas dari tanggung jawab, karena mereka adalah penyaring bakat-bakat Balangan untuk ke tingkat yang lebih tinggi itu.

Pada malam penutupan itulah disebutkan nama-nama yang akan harus berjuang lebih keras lagi untuk mewakili Balangan. Dari kafilah Kecamatan Batumandi, di antaranya ada nama-nama Tazkia Aulia, Muhammad Rifai, M. Rizki R, Hafidzah Qurata’yun dan Murjiah.

Dari kafilah Kecamatan Awayan muncul nama-nama Nor Effendi, M. Zaini Hanini dan Fahruji. Sedangkan dari kafilah Kecamatan Lampihong ada Tiara ernita, mirnawati dan anisanah.

Tidak ketinggalan juga ada Achmad Juprianoor (dari kafilah Kecamatan Juai), Nuzul Alifa Rahmah (Halong) dan Hendri (Paringin Selatan). Belum semua nama disebutkan, memang.

Adalah Tazkia Aulia, remaja berusia 15 tahun dari Desa Teluk Masjid Kecamatan Batumandi, yang dalam MTQN X ini menyabet gelar juara umum perorangan. Sedangkan juara umum per kecamatan diraih oleh kafilah Kecamatan Awayan. Ini adalah keberhasilan dua kali berturut-turut bagi mereka karena gelaran MTQN tingkat kabupaten Balangan sebelumnya mereka juga meraih gelar yang sama.

Dan Sekali Lagi Kemeriahan

Antusiasme warga yang mengunjungi panggung utama dan Lapangan Martasura malam penutupan MTQN X itu memang luar biasa—untuk ukuran event tingkat Kabupaten Balangan. Sejak selepas maghrib ruas-ruas jalan di Paringin penuh kendaraan dan manusia. Kemacetan terjadi di mana-mana, dengan arus utama menuju ke arah Lapangan Martasura. Para petugas dari kepolisian, dinas perhubungan dan satpol PP turunkan ke berbagai titik untuk sedapatnya mengurai kemacetan. Jalur alternatif yang menghubungkan area Rica/SKB dengan Paringin Timur pun relatif “laku keras” malam itu. Demikian juga jalur yang menghubungkan Jl. Tepian (Polsek Paringin) dengan Paringin Timur via Banyu Deras.

Mereka menyambut nama-nama yang diumumkan oleh dewan juri sebagai para pemenang. Warga menyambut bukan hanya karena nama-nama itu adalah para juara, tetapi juga karena nama-nama itu pulalah calon-calon pahlawan yang akan memperjuangkan nama Kabupaten Balangan pada musabaqah atau lomba-lomba sejenis di tingkat yang lebih tinggi. Harapan mereka tentu di tingkat nasional—tentu dengan potensi dan bakat-bakat dari daerah sendiri.

Penutupan event bukan hanya menampilkan “pertarungan” para peserta terbaik dan pengumuman hasil rekap hasil kejuaraan, tetapi juga dengan kemeriahan yang tidak kalah dibanding saat pembukaannya. Grup vokal karya anak Paringin tampil menghibur siapapun yang berada di seputaran Lapangan Martasura pada malam minggu itu.

Dua lagi magnet yang menyedot massa malam itu adalah penampilan pesta kembang api (ya, suasananya memang seperti malam tahun baru) dan Endah, kontestas D’Academy Indosiar yang berhasil menembus 8 besar tahun lalu.

Dan akhirnya, mungkinkan Kecamatan Juai tertantang untuk menciptakan kesuksesan serupa tahun depan? Karena mereka akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQN XI Tingkat Kabupaten Balangan 2017. *****

Leave a Comment