breaking news New

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari ulang tahun kemerdekaan. Setiap memperingatinya, tema penting yang perlu kita renungkan adalah, mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, yakni mengingat kembali usaha dan perjuangan para pahlawan dan perintis kemerdekaan. Disamping itu, tak lupa pula kita membuat evaluasi perjalanan bangsa ini dan membuat rencana kedepan untuk menyongsong masa depan kejayaan bangsa Indonesia.

Kita menyadari, bahwa kemerdekaan ini merupakan rahmat Illahi yang dikaruniakan kepada bangsa Indonesia. Secara tegas dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945 dalam rangkaian kalimat, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Penegasan ini menyatakan, bahwa rahmat Allah merupakan unsur yang menentukan bagi tercapainya cita-cita, tapi kalau Allah belum menurunkan rahmat dan pertolongan-Nya, perjuangan itu tidak akan berhasil.

Perlu disadari pula, rahmat dan pertolongan Allah tidak akan datang tanpa sebab. Rahmat dan pertolongan Allah harus diundang dengan pelbagai macam aktivitas lahiriah dan bataniah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus  menerus. Perjuangan kemerdekaanpun tak lepas dari pelbagai macam usaha dan perjuangan yang tidak ringan dan telah banyak memakan korban baik harta maupun jiwa. Dengan perjuangan yang sungguh-sungguh dan terus menerus itu, akhirnya bangsa Indonesia mendatangkan rahmat dan pertolongan Allah, hingga akhirnya bangsa Indonesia mendapatkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan kemerdekaan itu selalui kita peringati setiap tahun.

Bila perjuangan mensyukuri nikmat kemerdekaan dilakukan dengan sungguh-sungguh - cita-cita masyarakat adil dan makmur akan tercapai, setidaknya mendekati kondisi itu. Namun kenyataannya, kondisi masyarakat adil dan makmur - masih amat jauh. Justeru beberapa tahun terakhir ini, bangsa Indonesia sedang menghadapi badai krisis yang menghancurkan bangsa dan negara Indonesia. Kita sendiri tidak tahu, kapan badai itu akan berakhir.

Dalam perspektif Islam, setidaknya ada dua hal yang menyebabkan bangsa Indonesia dilanda krisis. Pertama, badai krisis merupakan akumulasi dari perilaku semena-mena atau boros dan perilaku fasik dari para penguasa dan pemegang kekuasaan selama bertahun-tahun. Perilaku kedurhakaan dan kezaliman, seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotesme (KKN) dalam segala bidang yang menyimpang dari norma-norma hukum agama dan negara - benar-benar telah merajalela ditanah air ini. Tidak hanya di era orde baru, di era reformasipun tidak hilang. Para elite politik, justeru tidak malu lagi mempertontonkan ’kezaliman’ mereka dihadapan rakyat. Dalam krisis, kaum ini ’cenderung’ memamerkan perilaku semena-mena.

Perilaku inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia berada dalam kehancuran sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al Qur’an, ”Dan jika Kami hendaki membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri ini (supaya mentaati Allah) ,tetapi  mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri ini sehancur-hancurnya”. (QS. Al Israa (17) : 16).

Kedua, perilaku fasik para pengusaha dan elit politik diikuti dengan kekufuran yang dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Karenanya pelbagai musibah dan azab yang muncul adalah buah dari kezaliman, kefasikan dan kekufuran. Kelaparan, pengungsian, ketakutan pertikaian, pertentangan horizontal - telah menjadi pakaian sehari-hari yang melekat pada sebagian masyarkat kita akibat kufur terhadap nikmat dari karunia Allah.

Sungguh ironis, Indonesia negara yang subur dan memiliki kekayaan alam yang besar, ternyata tidak bisa dinikmati oleh penduduknya. Justeru kelaparan, ketakutan dan pertikaian menjadi pemandangan sehari-hari. Kondisi bangsa dan negara saat ini, seperti sebuah negeri yang digambarkan Allah SWT dalam Al Qur’an, ”Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezkinya datang kepadanya berlimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)-nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakai-an kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (QS. An Nahl (16) : 12).

Nikmat Kemerdekaan

Tidak ada satu nikmatpun yang dapat menandingi nikmatnya sebuah kemerdekaan dan tiada suatu yang lebih indah dibandingkan dengan hadirnya rasa syukur di dalam hati dan ditunjukkan dengan menjalankan kewajiban dari kaum yang mendapatkan kemerdekaan itu. Kalimat ini menjadi penting dalam rangka kita mengembangkan ingatan kepada detik-detik awal saat bangsa kita meraih kemerdekaan.

Kemerdekaan yang merupakan persoalan asasi dan jadi dambaan setiap insan itu sungguh teramat mahal untuk dapat mencapainya dan bagi insan yang tahu diri tatkala ia meraih kemerdekaan, serta merta hatinyapun tunduk di dalam kesyukuran dengan memuji Tuhan-Nya. Sebagaimana dalam Al Qur’an ditegaskan : ”Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (QS. Fathir (35) : 34). Bukankah puncak dari segala suka cita dan kegembiraan setiap insan adalah terfomulasikan dalam nilai-nilai kemerdekaan ?

Sikap syukur atas teraihnya kemerdekaan oleh bangsa Indonesia, menunjukkan kepada dunia Internasional, bahwa kita ini adalah bangsa yang punya harga diri, hati nurani dan senantiasa meletakkan nilai-nilai berdemensi holistik ataupun transenden di atas segala kepentingan pengaturan hajat hidup masyarakatnya. Kita adalah bangsa yang berketuhanan, yang sadar bahwa konteks perolehan kemerdekaan bangsa sungguh-sungguh sebagai pemberian karunia dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, setelah segala daya upaya kemanusiaan diikhtiarkan melalui serangkaian perjuangan yang panjang.

Sebagai bangsa yang telah merdeka, tidaklah kemudian memberikan jaminan bahwa setiap insan yang menjadi penduduk negerinya benar-benar telah merasakan nilai-nilai kemerdekaan itu sendiri. Masih terlalu panjang proses yang harus dilalui oleh kerumunan orang yang negerinya telah merdeka itu. Bukankah kita masih menyaksikan, merasakan dan melihat dengan kasat mata, betapa terlalu banyak diantara kita yang belum merasakan kemerdekaan atas diri dan batinya. Alangkah banyaknya saudara kita yang masih harus bertarung dalam hidupnya demi memperoleh nilai-nilai kemerdekaan yang terbesar dari keterkungkungan dan aneka jeratan hidup.

Dari mulut-mulut kita barangkali dengan sempurna terucap kalimat ”Merdeka” yang lafazkan secara gegap gempita, yang diulang-ulang selama 69 tahun - akan tetapi hati ataupun perasaan sebagian kita tetap saja terjajah, terkungkung dan terhimpit dalam kesesakan nafas kehidupan yang sungguh terjauh dari nikmat kemerdekaan itu sendiri. Mereka memiliki tanah air, tetapi tidak mendapatkan nikmat apa-apa atas limpahan berkah dari tanah airnya yang amat subur ini. Sementara sebagian lainnya yang mungkin tak pernah mensyukuri nikmat kelimpahan rezki atas tanah-tanah merdeka ini.

Maka benarkah apa yang difatwakan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib ra yang dikutip secara bebas di atas, tiada yang lebih indah selain rasa syukur yang diejawantahkan dengan menjalankan kewajiban dari kaum yang mendapat nikmat kemerdekaan. Dengan menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah yang merdeka, kita sekalian saling memelihara dan berta’awwun demi mengusung kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua pihak yang terfomulasi dalam kerangka keadilan.

Dalam Al Qur’an dinyatakan Allah SWT, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhynya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. An Nissa (4) : 58).

Untuk mendatangkan rahmat dan pertolongan-Nya, perlu upaya yang sungguh-sungguh dan kesadaran dengan menampilkan perilaku yang sesuai dengan norma atau ajaran Illahi. Dalam momentum peringatan 69 tahun kemerdekaan ini, jangan sampai kita salah di dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, sehingga nikmat itu berubah menjadi laknat akibat kealpaan kita. Audzubillah min dzalik. **)

Leave a Comment