breaking news New

Al Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

Al Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terdapat wahyu ilahi yang menjadi pedoman hidup dan kehidupan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan pada-nya petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Q.S Al-Baqarah (2) : 2).

Bulan suci Ramadhan, berdasarkan surah Al-Baqarah (2) ayat 185 disepakati kaum Muslimin sebagai bulan yang didalamnya Al-Qur’an diturunkan buat pertama kalinya. Dengan mengambil momentum bulan yang penuh berkah ini, barangkali sangat menarik untuk ditelaah bagaimana Al-Qur’an berbicara dan memperkenal-kan dirinya sendiri.

Salah satu sebutan atau nama yang diberikan kepada Ramadhan yang mulia adalah Syahrul Qur’an atau bulan Al-Qur’an. Hal ini bukan hanya mengingatkan kita, bahwa Al-Qur’an itu diturunkan pertama kali pada bulan Ramahdan, tapi juga mengingatkan kita untuk semakin memperkokoh komitmen atau keterikatan kita kepada-Nya dalam menjalani kehidupan ini. Manakala kehidupan ini sudah kita jalani sebagaimana petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam Al-Qur’an, maka itu berarti kita hidup di bawah naungan Al-Qur’an.

Sayyid Qutub - ulama Mesir di dalam tafsirnya Fit Zhilail Qur’an menyebutkan, bahwa hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah nikmat, nikmat yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang-orang yang menghayati kenikmatan yang dapat mengangkat derajat manusia, memberkati danm meberikan kehidupan inidari segala bentuk kekotoran.

 

 Manfaat   

Ada beberapa manfaat yang diperoleh dari hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Pertama, kehidupan menjadi lebih terbimbing. Meskipun manusia memiliki akal pikiran yang cerdas, tapi tidak menjamin baginya memiliki kemampuan membedakan antara yang hak (benar) dan yang bathil (salah). Padahal kemampuan membedakan antara yang hak dan bathil itu, merupakan sesuatu yang amat penting menuju kehidupan yang baik. Karena itu manusia amat memerlukan bimbingan yang benar baik dalam berpikir, bersikap maupun bertingkah laku.

Oleh karena itu, Al-Qur’an yang akan membawa kenikmatan manusia dalam hidupnya, berfungsi sebagai petunjuk atau pembimbing agar mansia dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembela (antara yang hak dan yang bathil).” (Q.S Al-Baqarah (2) : 185).

Kedua, memiliki kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi pelbagai persoalan. Satu persoalan belum teratasi, tapi muncul persoalan berikutnya. Orang yang tidak mengambil bimbingan Al-Qur’an, menjadi bingung dalam menghadapi persoalan itu. Kebingungan mengakibatkan kekalutan dan membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang tidak terkendali yang unjungnya merugikan dirinya dan orang lain, bahkan bukan hanya kerugian di dunia saja tapi juga di akhirat kelak.

Sementara bagi orang yang hidup di bawah naungan Al-Qur’an, dia amat yakin, bahwa segala kesulitan dan persoalan hidup pasti ada jalan keluarnya. Apalagi hal ini merupakan janji Allah SWT yang tidak mungkin salah sebagaimana disebutkan dalam A-Qur’an : “…..........…… Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Q.S Ath-Thalaq (64) : 4).

Dengan demikian, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT untuk menjadi obat penawar dan penyembuh dari pelbagai persoalan hidup manusia, sehingga men-datangkan rahmat Allah SWT. Namun, orang-orang yang berlaku dzalim semakin menderita bila manusia menjalani hidupan di bawah naungan Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (QS Al Israa (17) : 82).

Ketiga, kehidupan menjadi bersih. Pada dsarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih tanpa noda dan dosa sedikitpun. Islam tidakmengenal ada istilah dosa keturunan dari orangtua terhadap anaknya. Namun tan pa bimbingan Al-Qur’an, kehidupan manusia menjadi kotor, kotor jiwanya, kotor pikirannya dan kotor perbuatannya.

Jiwa yang kotor telah menalhirkan sikap-sikap buruk, seperti riya (ingin mendapat pujian) dari orang lain, hasad (iri hati) terhadap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai orang lain, takabbur (menyombongkan diri ) dengan sebab merasa memiliki kelebihan pada dirinya dan sebagainya. Sementara pikiran yang kotor, telah membuat manusia menjadi orang yang menganggap baik perbuatannya yang buurk, ketentuan yang benar dianggapnya sebagai hambatan dan sebagainya. Sedangkan perbuatan atau amal yang kotor telah mengakibatkan peradaban manusia menjadi  begitu rendah, bahkan bisa lebih rendah dari binatang ternak – biasanya binatang nilainya ditentukan hanya dengan ukuran berat badan.

Hidup dibawahnaungan Al Qur’an, kehidupan manusia menjadi bersih-bersih jiwanya dengan selalu mengutamakan kehikhlasan, husnuzhan (berbaik sangka) terhadap orang lain, tawadhu (rendah hati) terhadap orang lain, meskipun orang itu lebih rendah kedudukannya, jujur yang dapat menghangatkan persaudaraan, tawakal (berserah diri) kepada Allah SWT setelah berusaha seoptimal mungkin yang menbawa sikap optimis dan sebagainya.

Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman, ”Jikalau sekirany penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raaf (7) : 96).

Oleh karena itu, hidup dibawah naungan Al Qur’an, disamping memberikan kenikmatan lahir dan batin, jasmani danrohanu, juga dapat meneropong kehidupan ini. Mana yang benar, mana yang salah, mana bahagia dan mana sengsara, mana kemajuan dan mana keterbelakangan, mana keadilan dan mana kedzaliman, begitulah seterusnya.

Dari sini semaki kita sadari dan harus kita akui, bahwa ajaran Islam yang indah dan nikmat ternyata terhalang keindahan dan kenikmatannya itu oleh sikap dan perilaku umat Islam. Akibatnya tidak sedikit manusia, karenanya tidak aneh, kalau upaya penegakan ditentang sendiri oleh sebagian kaum Muslimin, bahka bukan karena awam terhadap Islam dan Al Qur’an, tapi karena memang tidak berada dibawah naungan Al Qur’an. Auzubillah min dzalik. **)

Leave a Comment