breaking news New

Implementasi Ajaran Persatuan Menurut Islam

Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada umat manusia dengan perantara Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi dan Rasul penutup. Intisari yang dikandung Al-Qur’an, mencakup isi semua kitab-kitab suci sebelumnya. Malah nukilan-nukilan dan pelbagai ungkapan  yang terdapat di dalamnya, diinformasikan kepada umat manusia 15 abad yang lalu, kini telah dibuktikan kebenarannya oleh ilmuan dan teknorat, setelah melalui pelbagai eksperimen dan pengalaman empiris.

Kebenaran yang diungkapkan hingga kini, tak seorangpun diantara manusia mampu menolaknya. Bahkan makin maju sebuah peradaban manusia, makin tersingkaplah wujud asasi kebenaran Al-Qur’an. Membuktikan bahwa, semakin berpegang teguh kepada tuntunan dan ajaran Al-Qur’an, maka kebahagian dan kesentosaan yang menjadi dambaan setiap insan akan semakin mudah diwujudkan. Sebaliknya, makin jauh manusia meninggalkan Al-Qur’an, makin jauh pula ia dari cita-cita luhur insani, berupa ingin bahagia dan sejahtera lahir batin.

Ajaran Islam dalam menuntun anggota masyarakat, supaya memperoleh kebahagiaan hidup yang sempurna baik di dunia maupun di akhirat, memberikan penekanan tersendiri pada aspek kehidupan yang diimplementasikan dalam bentuk persatuan di anggota masyarakat. Karena itu, sangat beralasan bilamana tuntunan persatuan dibarengi dengan tata cara pelaksanaannya. Hal tersebut dimaksudkan, agar persatuan dan kesatuan itu tercipta dengan harmonis, langsung diatara manusia.

Ajaran persatuan yang dikandung dalam kitab suci tersebut, berbeda dengan ajaran persatuan pada kitab suci sebelumnya. Misalnya, kita suci Taurat hanya ditujukan kepada bangsa Israel, sedangkan Al-Qur’an untuk semua bangsa, semua makhluk, bahkan kandungan ajarannya merupakan rahmat bagi seluruh alam. Perbedaan warna kulit, tempat tinggal dan kultur budaya, dilebur dalam satu wahana persatuan yang disebut Islam.

Yang paling utama dicanamgkan adalah prinsip yang diperkenankannya setiap anggota masyarakat berserikat dan bermasyarakat. Dalam bermasyarakat dan berserikat, ditegakkan hukum-hukum syariat yang bersumber rujukan dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Hal ini dapat dimaklumi, sebab tegaknya hukum di atas landasan Sunnah Nabi dan norma-norma sosial kemasyarakatan, diistinbatkan dari sumber hukum (hukum Islam), agar melahirkan tatanan masyarakat yang aman, damai dan tentram, sebagai buah dari persaudaraan yang diikat oleh tali persatuan dan kesatuan.

Dari sisi sinilah letak permasalahannya, mengapa makna persatuan dalamAl-Qur’an menarik untuk dibahas dan dikaji, sebab kenyataan-kenyataan di tengah masyarakat membuktikan bahwa,  makna persatuan bergeser dari nilai insani dan kedudukannya diganti oleh nilai-nilai kultural yang sifatnya individual yang bercirikan oleh sifat tamak dan bergaya materialisme.

Seperti diketahui bahwa, hukum-hukum dan petunjuk dari Al-Qur’n sifatnya mujmal, maka yang menjelaskan teknik operasionalnya adalah Sunnah Nabi. Melalui Sunnah Nabi lah, maka tata cara persatuan dan kesatuan dijelaskan kepada masyarakat dalam bentuk yang telah konkrit lagi. Khusus mengenai ajaran persaudaraan dan persatuan dalam Islam, Nabi SAW memberikan analogi satu anggota badan dengan anggota lainnya. Seperti dalam disabdakan Nabi SAW sebagai berikut : Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kerukunan dan kasih sayang antara mereka adalah laksana tubuh yang satu. Apabila salah satu dari anggota tubuh itu sakit, maka seluruh tubuh akan menderita demam dan tidak dapat memejamkan mata”. (HR Muslim).

Hakikat Persatuan Dalam Islam

Islam memandang bahwa hakekat persatuan berdasarkan pada segi kemanusiaan, sebagai makhluk yang satu dalam arti seketuruna dan seagama. Seketurunan di sini, mengandung arti bahwa semua manusia itu beraal dari sumber yang satu, yaitu Nabi Adam AS dan arti seagama mengandung makna, bahwa inti ajaran semua agama samawi dari manusia pertama hingga sekarang dan untuk masa yang datang pada hakekatnya satu juga, yaitu ajaran yang mengesakan Allh SWT. Statemen tersebut diperkuat oleh firman Allah SWT dalam Q.S Al Hujurat ayat 13.

Ayat ini menegaskan, bahwa manusia itu berasal dari satu keturunan yang sama, yaitu Nabi Adam AS. Dengan beranak pinaknya Nabi Adam AS dan cucunya, maka lahirlah bangsa-bangsa dan suku-suku yang tersebar dia ats permukaan bumi. Antara satu bangsa dengan bangsa lain, antara satu suku dengan suku lain tidak saling kenal, sehingga lahirlah kesan di antara mereka bahwa bangsa yang satu berbeda nenek moyang dengan bangsa lainnya.

Bahkan ada kesan yang lebih tajam lagi, ”Bangsanyalah yang paling mulia, sedang yang lainnya hina”. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW dalam khutbahnya di Arafah ketika menunaikan haji wada’ mengatakan, ”Wahai manusia, sesungguhnya ayahmu satu, tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non Arab, tidak ada perbedaan antara berkulit putih dan orang berkulit hitam. Yang membedakan mereka, hanyalah ketakwaan kepada Allah SWT”.

Titik terang dari kegelapan yang mengelilingi kehidupan umat manusia mulai nampak, ketika nafiri kebenaran ditiupkan dari padang pasir gersang oleh Rasulullah SAW pada abad ke-6 Masehi, dengan berpedmoan pada ajaran Islam yang tersimpul dalm kita suci Al-Qur’an. Allah SWT memperingatkan kepada manusia melalui firman-Nya, bahwa pada dasarnya manusia itu adalah bersaudara. Dan untuk lebih meyakinkan pernyataan tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk bagaimana menyambung tali persaudaraan itu agar menjadi kokoh-kuat dengan ikatan ”agama”.

Ditegaskan bahwa, tali persaudaraan yang diikat dengan tali agama lebih kuat dari pada persaudaraan yang diikat oleh tali hubungan darah atau keturunan. Persaudaraan atas dasar seketurunan akan putus dengan perbedaan agama, sedangkan persaudaraan seagama tidak terputus oleh perbedaan keturunan. Ini berarti bahwa antara persamaan atas dasar keturunan dan keyakinan (seagama) memiliki persamaan, yakni pada segi ”kekekalan”. Persaudaraan atas dasar keturunan bersifat sementara, sedangkan persaudaraan yang diikat oleh tali agama tidak terbatas hanya di dunia saja, tapi juga ukhrawi diakhirat kelak. Atas dasar itulah, Allah SWT dalam firman-Nya secara tegas memerintahkan umat manusia agar senantiasa mempererat hubungan persaudaraan.

Lebih ditegaskan lagi oleh Allah SWT dalam Surah Al Baqarah ayat 213 berbunyi, ”Manusia itu adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dengan memberikan peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di atara mereka tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu, melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah SWT memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya kepada jalan yang lurus”.

Mufassirin dalam menafsirkan ayat tersebut berbeda-beda pendapat. Menurut Syekh Ahmad Mustafa al Maraghi, pengertian yang dikandung ayat tersebut ialah adanya petunjuk kuat bahwa bagaimanapun kuatnya seorang manusia dalam pelbagai hal pasti mereka itu tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia yang satu pasti membutuhkan manusia yang lainnya. Hal demikian itu adalah ciri khas bahwa manusia itu adalah makhluk sosial.

Dapat disimpulkan,bahwa ajarn Islam tentang persatuan yang diwartakan Allah SWT adalah ajaran yang cukup ampuh dan sempurna. Pernyataan ini diperkuat dengan kenyataan atau fakta sejarah, bahwa pedoman dan tuntunan persatuan yang disampaikan kepada manusia dengan perantaraan Al-Qur’an telah mempu mempersatukan bangsa-bangsa yang dahulunya terpecah belah dan saling bermusuhan, sekalipun bangsa tersebut hidup dalam satu jazirah dari sebuah benua, yakni Arab. Islam datang memperkokoh persatuan di atas landasan persaudaraan yang dinafasi oleh ajaran Islam.

Persatuan yang diajarkan Islam tidak berpijak pada warna kulit, suku, ras dan tempat tinggal, melainkan kesemuanya itudilebur dalam satu tatanan persaudaraan dan persatuan yang diikat oleh agama Islam. Islam telah menetapkan pilar-pilar utama bagi persatuan umat manusia yang didasarkan pada prinsip agama dan keturunan dalam arti bahwa manusia bersumber dari yang satu, yaitu Adam AS. Resep persatuan dan kesatuan yang diberikan oleh Islam sejak dahulu hingga kini, belum mampu dicapai oleh akal pikiran ahli fikir manusia. Wallahua’lam bishawab. *)

Leave a Comment